Minggu, 19 Desember 2010

(FF) MY LADY...... SEMBILAN BELAS

Mo Entry Part ini kok senyum2 mulu...
inget MSAON Epi 8,
aduh tu adegan mirip...
Double Geun kabur melarikan diri dr Fans,
Ngumpet di gang kecil, Ngos2an b2an, trus Kissu
Napa bisa sama yack... *senyum2, cengar cengir ga jelas*

Cast :
Jang Geun Suk as Prince Shin Young
Hwang Mi Ra as Princess Hwang
Kang Man Bok as Prince Shin Assistant
Lee Yoo Hye as Princess Hwang Assistant
Shin Mae Ri as Maid
Jung Ji Ae as Maid
Choi Hyun Na as Reporter

Sebelumnya,
"Oppa, apa kau terbiasa mengerjakan pekerjaanmu dikamar sebelum kau tidur..?" Tanya Mira.
"tidurlah... aku mengecek dokumen dn pekerjaan sebentar ya..."jawab Shin.
"Oppa, mengapa mencariku.. mengapa menjemputku..."Tanya Mira yang masih memejamkan mata.
"salah bila aku menjemput istriku yang pergi untuk kembali kerumahnya..?"Tanya Shin. "Oh karena itu.. miane oppa.. aku selalu membuatmu susah... "jawab Mira.
"Cantik...."gerak bibir dan tangan Shin pada Mira dari kejauhan. "Thank You..."Mirapun menjawab dengan gerak bibirnya tanpa suara.
"Pangeran.... apa hubungan pernikahan harus berdasarkan cinta? apa kita juga harus saling mencintai?" Tanya Mira.
"Putri Hwang... seseorang tidak bisa memaksakan orang lain atau pasangannya untuk mencintai.. itu tidak akan membuat nyaman satu sama lain.."jawab Shin.
"Pangeran.... hmmm, apa kita tidak bisa pacaran dulu..."

#19,
Pagi Hari..
"semalam kita berbuat apa...?" Tanya Mira saat keduanya sarapan bersama.
"Memang tidak ingat? aku baru menyadari kalau istriku begitu sexy dan benar2 menggoda.."jawab Shin memajukan wajahnya ke arah Mira.
"Oppa... aku serius jangan meledek.."Mira cemberut.
"mengapa urusan seperti itu aku harus meledekmu..."jawab Shin. "tapi lain kali jangan terlalu ribut ya, desahanmu bisa2 membangunkan seisi istana.."ucap Shin kembali.

Senin, 13 Desember 2010

(FF) MY LADY...... DELAPAN BELAS

Cast :
Jang Geun Suk as Prince Shin Young
Hwang Mi Ra as Princess Hwang
Kang Man Bok as Prince Shin Assistant
Lee Yoo Hye as Princess Hwang Assistant
Shin Mae Ri as Maid
Jung Ji Ae as Maid
Choi Hyun Na as Reporter


Sebelumnya,
“Pangeran, anda sudah menjadi sosok itu… aku mendoakan itu karena aku melihatmu.. tetap jadi Shin Young yang aku kenal…”jawab Mira duduk dibawah Shin memegang tangannya.
“tapi apa gunanya, aku selalu menghilangkan senyum diwajahmu dengan ucapan kasarku, bahkan kini kau ingin pergi dariku… untuk membawamu kembalipun aku tidak bisa… semoga bayi itu bisa menjadi seorang yang membanggakan orang2 disekelilingnya tidak seperti aku yang terlalu egois…”Ucap Shin datar sambil menatap Mira.
"Kemarin bukan sudah lihat bagian atas tubuhku ini, mengapa sekarang kau harus membalikkan badan saat melihatnya kembali, takut??"ucap Shin.
"Hwang Mi Ra... tidak ingin lagi menjadi istriku? bila iya, aku tidak akan mengganggumu lagi..."Shin memegang wajah Mira menunggu jawaban darinya.
"Aku sudah menjadi istrimu sekarang dan selamanya... oppa.."
Shin berkali kali mengecup bibir Mira,Ibu jari Shin mengusap lembut wajah Mira,Shin yang masih memegang wajah Mira mencium kening istrinya lalu ikut menunduk hingga kening dan ujung hidung mereka beradu, Keduanya kemudian berpelukan.


#18,
"Yoboseyo... nde... kalian bertanding dimana? aku masih dijalan... baiklah.."ucap Mira ditelepon genggamnya.
"Oppa..."Ucap Mira. "Aku tau... kita kesana, kau rindu murid2mu... aku turuti Nona Hwang.. hari ini Full aku melayanimu.."Ucap Shin tersenyum.
"kamsahamnida, Shin Young-ssi.... nanti aku turuti apa yang kau mau setelah ini, sebagai ganti atas pelayananmu hari ini..."jawab Mira tersenyum. "Promise...??"Shin meyakinkan. "Promise... trust Me.."ucap Mira memberikan dua jarinya.


Gelanggang Olahraga,
"mengapa menatapku seperti itu.... ada yang aneh, atau curiga dan takut kalau muridmu nanti menyukaiku..."ucap Shin pada Mira yang memperhatikannya. "baguslah kalau muridku menyukaimu... berarti suamiku memang tampan hingga banyak yeoja yang menyukainya... ayo, penampilanmu juga sudah tidak terlihat seperti seorang Pangeran.."ajak Mira keluar dari mobil. "Tapi mengapa menatapku seperti itu..."Tanya Shin penasaran sambil berjalan masuk kedalam.

"Sepertinya aku mulai menyukaimu...."Bisik Mira segera berlalu meninggalkan Shin yang terdiam mematung saat Mira melihat murid2nya sedang menunggunya. Mira yang sudah masuk kedalam ruangan pertandingan keluar kembali mencari suaminya yang tertinggal, "Shin Young Oppa..."panggilnya.
"ayo, kita sudah menang... cepat..."Mira menarik Shin yang masih terdiam, Shin hanya mengikuti langkah istrinya.


Shin duduk disebelah Mira, wajah Mira begitu bersemangat senyum dan tawanya begitu lepas terkadang ia memegang tangan Shin saat tegang kala muridnya membawa bola mengumpulkan poin. Shin tersenyum sendiri dan banyak diam, ia mesih teringat ucapan Mira. "oppa aku turun sebentar menemui mereka... senangnya sekolahku menang..."Mira berbisik pada Shin karena suara gaduh yang pecah merayakan kemenangan mereka.


"Nona Hwang........ akhirnya anda datang...."seru murid2 Mira.
Shin memperhatikan Mira dari jauh, keceriaan dan tawanya benar2 lepas, para murid itu begitu damai dan nyaman merangkul juga memeluk Mira. Mira memperlakukan mereka bagai adik anak untuk dirinya, begitu harmonis hubungan guru dan murid ini. Seseorang datang ditengah2 kumpulan murid itu, Shin menatap tajam kearah kerumunan perayaan itu, ia begitu terganggu dengan pandangan laki2 yang berada disana pada istrinya.

"Tuan Kim... Daniel Kim... akhirnya ia bertemu nona Hwang kembali, sayang Nona Hwang sudah menikah... andai belum mereka pasti pasangan yang serasi..."ucap seorang siswi yg didengar Shin.
"wajah Tuan Kim begitu tampan karena wajah bulenya... ah, Nona Hwang beruntung sekali disukai tuan Kim... sekarang menikah dengan Pangeran tampan pula.. benar2 beruntung..."ucap siswi yang lain tanpa menyadari Shin dibelakang mereka. Shin terus memandang laki2 itu.

"Nona Hwang.... "sapanya. "Oh, Tuan Kim... anda kembali, karena bimbingan anda sekolah kita bisa juara..."balas Mira.

"Nona Hwang, itu berlebihan mereka memang berbakat, benarkan..."tanya Daniel pada muridnya.
"Benar... kami benar berbakat nona Hwang.... ayo kita foto bersama mumpung Nona Hwang datang..."ucap Han Go Be.

Mereka berfoto bersama Mira dan Daniel, para murid menempatkan mereka berdekatan, dari jauh seseorang terus memandang. "Oh, tunggu sebentar aku ingin mengajak seseorang berfoto... "ucap Mira berlari menaiki anak tangga bangku penonton.


"Ayo.. kita foto bersama dengan mereka.."Mira menarik tangan Shin yang bingung selagi asyik memandang Mira dan Daniel. Dua siswi yang membicarakan Mira dan Daniel terbengong karena tidak menyadari sang Pangeran ada dibelakang mereka. Mira menggandeng tangan Shin kuat membawanya ketengah lapangan.

Murid2 membungkuk memberi hormat pada Shin, "Jangan sebut Pangeran, kami kemari tanpa kawalan... Hmm, Tuan Kim ini suamiku Shin Young.. Oppa, ini Tuan Daniel Kim guru olahraga freelance yang mengajari mereka hingga meraih kemenangan..."ucap Mira masih menggandeng tangan kiri Shin dan menyembunyikannya dibelakang pinggangnya.


"Shin Young..."Shin mengulurkan tangan kanannya. "Daniel Kim, senang bertemu dengan anda..."balas Daniel.
"Ayo, kita berfoto bersama...."Ucap Han Go Bae. Mira merangkul mesra pinggang Shin dan bersandar didadanya, Daniel sedikit menyingkir memberi jeda jaraknya dengan pasangan itu.


Istana Gwanshim,
"sudah hampir pagi... badanku pegal semua, baru terasa sekarang..."keluh Mira.
"kugendong..., wajahmu mulai pucat... dingin??"Tanya Shin pada Mira.
"Hari ini aku benar2 dimanja... hmm, ayo gendong aku...."jawab Mira sambil membuka tangannya untuk digendong.
Shin menggendong Mira kedalam istana, tiba dikamar Mira," Mengapa mereka tidur disini.. apa menungguku datang?"ucap Mira turun dari gendongan Shin melihat ketiga pelayannya terlelap ditempat tidurnya.
"Mereka khawatir kau tidak kembali... tidur dikamarku..."bisik Shin. "Heh, biar aku tidur dengan mereka.."jawab Mira.

"Kenapa Khawatir?? aku suamimu apa yang kau takutkan... Ayo.."Ucap Shin kembali meraih pinggang Mira.

Mira berganti pakaian menggunakan kemeja Shin yang kebesaran, "Lihat mengapa bentukku seperti ini.."ucap Mira yang meregangkan tangan menunjukkan betapa besar pakaian yang digunakannya.
Shin tersenyum melihat ulah istrinya, "tidurlah... aku mengecek dokumen dn pekerjaan sebentar ya..."jawab Shin membimbing Mira ketempat tidur dan menyelimutinya.



Shin duduk di Sofa mengecek pekerjaannya, Mira memandangnya dari tempat tidur. "Oppa, apa kau terbiasa mengerjakan pekerjaanmu dikamar sebelum kau tidur..?" Tanya Mira.
"Hmm, kau tidak menyukainya..?"Tanya Shin kembali. "Kalau memang perlu lanjutkan, tapi jangan terlalu sering, tubuh dan matamu juga Perlu beristirahat... aku menyisakan tempat untukmu, tidurlah disini.. Malam Oppa..."jawab Mira yang kemudian memejamkan matanya.
Shin tersenyum kecil mendengar ucapan Mira sambil memandangnya, tak lama menutup laptopnya dan menghampiri Mira yang tertidur, merapikan selimut juga rambut yang menutup wajahnya kemudian ia mencium kening Mira.


Pagi Hari,
"Putri... Putri Hwang... kami khawatir sekali..."Mae Ri menjerit saat melihat Mira, mereka langsung berpelukan.
"Miane, aku membuat kalian khawatir... kalian tidak menyisakan tempat tidur untukku... tidur kalian pulas sekali, ayo aku mau mandi.."ucap Mira pada ketiga pelayannya.

"Black..........."teriak Mira melihat kudanya saat diluar istana bersama Shin.
Sadar teriakannya terlalu kencang hingga membuat orang sekitarnya terkejut dan memandangnya, Mira bersembunyi dibalik punggung Shin. "Maaf... kelepasan... oppa, maaf..."bisik Mira menundukkan wajahnya dipunggung Shin.

"bawa kemari ahjussi.... tidak apa, kau merindukannya..."jawab Shin menarik Mira dipeluknya.
"Black... merindukanku atau merindukan Pangeranku..."ucap Mira menggangkat tangannya juga mengangkat tangan Shin agar Black memilih. Black mengusapkan kepalanya ditelapak tangan Mira.

"YAK! aku yang memeliharamu dari kecil mengapa kau malah memilih istriku... ini benar2 tidak adil.."Shin protes memarahi Black, semua pelayan pengawal juga tersenyum melihat ulah Pangeran dan Putri mereka.
"Mau berkeliling sebentar menunggu makan malam??" ajak Shin, Mira menganggukkan kepalanya.


Shin menaiki Mira ke punggung Black terlebih dahulu, baru kemudian ia naik memeluk Mira dan mengendalikan Black lalu berhenti ditempat biasa Mira membaca ditemani Black.

"Kemari..."Shin mengundang Mira tidur dipahanya, rok Mira tersingkap karena hembusan angin, Shin segera menutupnya dengan kemeja luar yang dikenakannya.
"Sebentar lagi kita akan sibuk... Yang Mulia akan berulang tahun... syukurlah kau kembali...ucap Shin pada Mira yang memejamkan matanya dipangkuan Shin.

"Aku akan berbuat apa untuk ulang tahun Yang Mulia.... Oppa, mengapa mencariku.. mengapa menjemputku..."Tanya Mira yang masih memejamkan mata.
"salah bila aku menjemput istriku yang pergi untuk kembali kerumahnya..?"Tanya Shin.
"Oh karena itu.. miane oppa.. aku selalu membuatmu susah... "jawab Mira singkat. "Kau ingin aku menjawab apa Putri... aku ingin tau maksud perkataanmu saat sebelum menonton basket semalam.."tanya Shin penasaran.

"Hmm, yang mana.... yang sepertinya aku menyukaimu...? yang itu oppa..."tanya Mira menengadahkan kepala melihat wajah Shin. "Hmmm...."Ucap Shin. "lupakanlah, aku hanya becanda.. maaf bila membuatmu bingung.."jawab Mira datar lalu bangkit dari tidurnya.
"Ayo.. sudah senja, nanti Ibu Suri menunggu..."ajak Mira memberikan kemeja Shin.


"aku berharap itu nyata Putri, bukan sekedar candaanmu..."bisik Shin dalam hati.

"Karena aku istrinya ia menjemputku... ia masih menutup hati, lebih memikirkan istana ketimbang hatinya.. aku tidak akan berharap lebih.. ahjumma dugaanmu salah ahjumma... aku tetap pendamping untuknya, aku hanya baru merubahnya kembali seperti Shin yang dulu seperti yang diceritakan Yoo Hye dan Mae Ri, mengembalikan senyumanya seperti dulu untuk istana ini... aku harus melupakan perasaanku padanya, ahjumma kini aku mengerti rasanya mencintai dan kecewa..." Mira melamun sepanjang perjalanan kembali ke Istana.


Minum Teh Sesudah Makan Malam,
"Mau buatkan kimchi untuk acara nanti... Pangeran bilang Kimchi buatanmu enak.. "Pinta Yang Mulia.
"Terlalu memuji Yang Mulia, buatan ahjumma disini enak kok... tapi nanti aku bantu, special untuk anda asal janji menjauhkannya dari suamiku... takut sebelum waktunya sudah habis..."bisik Mira.
"Ya, nanti aku bicara pada Permaisuri untuk tidak berbelas kasihan padanya..."Yang Mulia tersenyum.
"Bersabar menghadapi Pangeran kami, ia dulu tidak seperti ini... namun setahun belakangan ini kami mulai melihatnya kembali seperti dulu.. itu karena anda Putri... Kamsahamnida.. kau pasti banyak memanjakannya dan menuruti apa yang dimaunya.."Ucap Yang Mulia.

"Tidak seperti itu... Pangeran orang yang berbeda, aku mungkin harus sering meledeknya hingga ia hilang kata2... Puteramu itu orang yang sangat sulit dan keras kepala Abeonim... perlu cara lain untuk menaklukkan abeonim..."ucap Mira tertawa lepas sementara yang lain hanya bengong dan terkejut mendengar Mira berteriak "ABEONIM".


"Maaf.. maafkan aku Yang Mulia, aku sudah lancang..."Mira berdiri membungkuk.
"Tidak apa.. kau bebas memanggilku Putri... panggillah senyama yang kau inginkan... Abeonim? abeoji?? kalau perlu Appa..."Ucap Yang Mulia tersenyum.

"Maaf aku tidak berani... maafkan aku..."Mira mengundurkan dirinya langsung berdiri disisi Shin dan memegang tangan suaminya erat.

"Dia malu... sudahlah, terserah Putri ingin memanggil kita apa... pamit pulang?.. Kami pamit..."Ucap Shin saat Mira mengangguk.

"Mengapa diam, kalau nyaman memanggil dengan abeonim panggillah..."ucap Shin dalam perjalann ke istana gwanshim.
"Aniyeo... aku lancang... aish, malunya.. sudahlah jangan dibahas... aku akan hati2 berbicara..."jawab Mira.


Satu Bulan Sebelum Ulang Tahun,
"Aku boleh coba terlebih dahulu..."Rayu Shin.
"Tunggu sampai Yang Mulia mencobanya..."jawab Mira.
"ayolah, suamimu ini hanya meminta sedikit... Mae Ri, bantu aku.."Ucap Shin.
"Aku tidak berani... tapi yang lobak itu enak Pangeran.. aku tadi icip sedikit.."Ungkap Mae Ri.
"Yak... bagaimana kau bisa mencuri mencoba sedang aku sedikitpun tidak bisa, ayo Mae Ri rayu Putri..."Pinta Shin.

"Ini sedikit saja... kemarilah, yang jadi istrimu itu aku kenapa harus memelas pada Mae Ri..."Ketus Mira, yang menyuapi Shin.
"Yang lobak kenapa tidak suruh aku mencoba juga.."ucap Shin dengan mulut penuh, Yang Mulia, Permaisuri juga Ibu Suri yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum.

"Itu belum habis sudah minta yang lain.. "Omel Mira.
"Ayolah, nanti Yang Mulia juga mengerti..."Shin merayu. Mira menyuapinya kembali hingga terlihat sisa kuah kimchi dibibirnya, Mira menyapu bibir Shin dengan Ibu jarinya, Shin kemudian menahan tangan Mira lalu mengambil kembali kuah kimchi diibu jari Mira.

"Yang Mulia.. Permaisuri... oh, Ibu Suri..."Mira kaget dan langsung menarik tangannya dari bibir Shin.

"Anak nakal.. bagaimana bisa melakukan kemesraan depan kami dan depan para pelayan ini... lihat, bagaimana kalau kami semua disini ingin disuapi oleh Putri Hwang..."Ucap Permaisuri tersenyum, Mira memukul perut Shin yang meringis.


"Biar aku coba, agar pasangan ini bisa segera berduaan..."Ucap Yang Mulia mencicipi Kimchi buatan Mira. "Jaga Istrimu baik2 Pangeran, dia muda pintar cantik juga pintar memasak.... Ini benar2 Enak Putri, akan lebih enak bila sudah disimpan..."Puji Yang Mulia, Shin tersenyum memandang Mira yang memegang dadanya karena Pujian.


Sehari Sebelum Perayaan,
"Ahjumma ada skerting untuk meja jamuan..."ucap Mira yang ikut sibuk menyiapkan perayaan.
"Perlu dibantu..."Ucap Shin saat Mira membawa setumpuk kain dipelukannya.
"Ini... Oh, yeobo kau datang tepat waktu.."jawab Mira tersenyum manis mengerjai Shin.
"Pegang ini diujung sana..."Pinta Mira menggelar selembar kain berwarna emas diatas taplak putih. "Lalu..."Tanya Shin.
"Tenang, pegang ini dan remas yang kencang berlawanan arah denganku..."perintah Mira, Shin menuruti.
"Akhirnya mereka kembali mesra.. tapi ini jauh lebih mesra.. "ucap Mae Ri.
"Pangeran sudah seperti dulu, pandangnnya terlihat menyayangi Putri.."ucap Ji Ae.
"Sudah biar mereka berdua... semoga mereka bisa terus bersama... "ucap Yoo Hye.
"aku benar2 menunggu saat ini eonni..."ucap Mae Ri. "Sudah, ayo tinggalkan mereka..."ajak Yoo Hye.


Ulang Tahun Yang Mulia,
"Putri Hwang....?"Tanya Shin pada Mae Ri. "Putri masih dikamar bersama Ji Ae, tadi kami disuruh membantu disini..."Jwab Mae Ri.

Seluruh undangan datang, Shin juga yang lain sibuk menjamu para undangan, hingga tak menyadari seseorang hadir dengan gaun bertali tipis berbelah rendah dibelakang memperlihatkan punggungnya yang putih hingga terlihat membentuk lekukan tubuhnya, begitu anggun dan cantik langsung menyapa para tamu dan undangan.

"Putri Hwang malam ini cantik sekali, kau pandai menghias Putri Ji Ae..."Puji Mae Ri.
"Wajah Putri sudah cantik jadi tanpa aku hias sudah terlihat cantik dan begitu menyejukkan..."jawab Ji Ae.
"Mrs. Dunt... senangnya anda datang.. nikmati pestanya aku menjamu yang lain.."ucap Mira.
"Malam ini anda sangat cantik.... senang berjumpa denganmu lagi Putri..."jawab Mrs. Dunt.

"Sampanye Putri..."Tawar seorang pelayan saat Mira berdiri sendiri lepas menyapa pejabat daerah. "Gomawo.."

Mira meminum sampanye itu seteguk wajah terus menghias senyum saat para undangan menyapanya, hingga pandangannya bermuara pada sepasang mata yang mulai menyadari kehadirannya.

"Cantik...."gerak bibir dan tangan Shin pada Mira dari kejauhan.
"Thank You..."Mirapun menjawab dengan gerak bibirnya tanpa suara kemudian mengangkat gelas sampanyenya pada Shin yang juga melakukan hal yang sama.
Disudut berbeda ada sepasang mata yang menatap iri kearah mereka.


Mira berdiri ditengah ruangan saat Shin mulai mendekatinya, keduanya masih terus tersenyum menyapa para undangan sambil terus mendekat satu sama lain.
"Putri Hwang...."Sapa Shin.
"Selamat malam suamiku, Pangeran Shin Young.."Jawab Mira tersenyum.
"Mengapa kau menggulung rambutmu.. aku lebih menyukai saat kau menggerainya..."ucap Shin.
"Bila tergerai tidak akan serasi dengan gaunku ini.."jawab Mira memutar tubuhnya dihadapan suaminya.

 
 

Shin menunduk tersenyum diam melihat istrinya yang begitu cantik malam itu.
"harusnya ini hanya boleh aku yang memandang bukan? tapi karena malam ini special jad aku menyukai penampilanmu malam ini yang begitu cantik.."Ungkap Shin menarik pinggang Mira merapat pada tubuhnya. "Bagaimana bisa aku tidak terlihat cantik bila suami malam ini begitu tampan.. mau bersulang denganku.."Mira menyentuh gelas Shin lalu keduanya meminum sampanye itu sementara tangan kanannya mengalung dileher Shin.


"oh, Nona Choi.... senang bisa berjumpa denganmu, kau cantik sekali malam ini..."sapa Mira saat melihat Hyun Na yang sedang memandang mereka.

"Anneyong Putri Hwang, Pangeran.... anda berdua juga terlihat serasi malam ini..."jawabnya tersenyum kecil.
"acara dimulai kita mendekat disana... kami tinggal dulu Nona Choi, semoga menikmati pestanya..."ajak Shin merangkul pinggang Mira menuju tempat keluarga kerajaan.


"Yang Mulia, mengapa tidak mencium dan menyuapi Permaisuri... hari ini hari special, lakukanlah sesuatu yang special juga seperti kami...""ledek Shin mengecup pundak Mira saat Yang Mulia memotong kue ulang tahun dan memberikannya pada Permaisuri.

"Pangeran selalu pamer kemesraan dengan Putri, terkadang membuatku iri... kemarilah Yeobo, kita juga bisa melakukannya seperti mereka.."jawab Yang Mulia mengecup kening Permaisuri.

Semua tamu undangan tersenyum dan bertepuk tangan melihat keharmonisan keluarga istana itu, pandangan Hyun Na tetap tertuju pada pasangan Pangeran dan Putri yang selalu tersenyum dan berpandangan satu sama lain, dan tangan Shin tak pernah lepas merangkul pinggang sang Putri.

"akhirnya kau mulai melabuhkan hatimu kembali Pangeran... benar2 tidak ada tempat untukku..."Bisik Hyun Na dengan mata berkaca kaca.


"Cape?.. Mau jalan2 ditaman..?"tawar Shin pada Mira yang menyendiri, Mira menjawab dengan anggukan.

Keduanya mulai melangkah menuju taman, Mira berjalan lebih dahulu didepan Shin, Sang Pangeran memandang karya Tuhan yang begitu anggun dihadapannya. Shin mengikuti langkah Mira sambil sesekali tertunduk mengulum senyum, Mira berhenti membungkuk membuka sepatunya, Shin menghampiri membantu Mira melepaskannya, begitu selesai ia menenteng sepatu Mira dan menggandeng tangan istrinya.

"Gendong aku.. aku mau duduk diatas..."Mira membuka tangannya meminta Shin menaikkannya duduk diatas batu besar.


"Syukurlah langit cerah... sepertinya memang ini hari untuk Yang Mulia..."ucap Mira memandang langit pada Shin yang berdiri tak jauh darinya.

"Pangeran.... apa hubungan pernikahan harus berdasarkan cinta? apa kita juga harus saling mencintai?" Tanya Mira tiba2 dengan pandangannya tetap menatap langit.
Shin menatap Mira bingung dengan pertanyaannya yang tiba2.
"Pangeran.. aku tidak pernah merasakan indahnya jatuh cinta atau sakitnya karena patah hati... apa aku harus mencintaimu?" ucap Mira kembali.

"Putri Hwang... seseorang tidak bisa memaksakan orang lain atau pasangannya untuk mencintai.. itu tidak akan membuat nyaman satu sama lain.."jawab Shin.
"ada yang mengganggu pikiranmu hingga kau menanyakan hal ini tiba2, atau kau mulai jatuh cinta padaku..."Ledek Shin.

"Hmm, SEPERTINYA.... "Jawab Mira santai masih menatap langit, Shin terkejut mendengar jawaban Mira yang begitu ringan memberikan jawaban.

"Tapi itu sepertinya tidak mungkin... kita sudah melakukan perjanjian, dan kau pernah terluka mungkin juga dirimu masih tidak ingin mengulang luka ini... jadi kita lupakan saja.."Ungkap Mira kembali sebelum Shin sempat menjawab pernyataannya.

"Pangeran.... hmmm, apa kita tidak bisa pacaran dulu... kalau aku begitu manja banyak merengek merepotkan dan juga terlalu menuntut perhatian darimu.. KITA PUTUS... aniyo... tidak bagaimana kita putus karena kita sudah menikah.. mungkin aku akan pergi darimu... bagaimana? Pangeran eh Oppa setuju dengan ini..."ucap Mira.


"Putri, masalah hati itu bukan untuk dipermainkan..... dan kau juga tidak juga dengan begitu mudah melakukan transaksi dengan atas nama cinta.. jangan pernah lakukan itu Putri..."jawab Shin yang terlihat kesal.

"Maaf... aku tidak akan membicarakannya lagi... maafkan aku..."ucap Mira sedih dan hendak turun dari batu besar yang didudukinya.
"Putri Hwang, maaf bila ucapanku melukaimu... pertemuan juga pernukahan kita terlalu singkat, kita pacaran seperti yang kau usulkan..mungkin dengan ini kita makin mengenal satu sama lain... jangan dulu memikirkan dampak dan akhir ceritanya, tapi kita jalani dulu..."Ucap Shin memegang pinggang Mira yang ingin turun.


"Yakin mau melakukannya... hmm, setuju... kita pacaran mulai malam ini, jagiya..."jawab Mira tersenyum dalam gendongan Shin yang menurunkannya.

"Baiklah.. sebentar JAGIYA? benar2 seperti kekasih.. kalau begitu kita lakukan yang orang berpacaran lain melakukannya, dan ini juga sebagai upah yang kau janjikan saat menonton pertandingan Basket murid2mu..."ungkap Shin merangkul pinggang Mira dalam pelukannya.

"melakukan apa.... oppa... sebelumnya kita pernah melakukan ini, sebaiknya tidak lagi apalagi sedang banyak tamu disini, bagaimana kalau mereka melihat...?" ucap Mira menutup bibir Shin yang ingin menciumnya.
"Kenapa? yang aku cium istriku juga kekasih baruku.. apa salah?" Komplen Shin.

"Haha, oppa... ini benar2 bukan Shin yang kutemui pertama kali.. kemari.." Mira tertawa lepas kemudian mengecup bibir Shin.
"sudah.. itu peresmian kita pacaran."ucap Mira.
"Itu baru peresmian, upah kemarin belum.."jawab Shin yang kembali mencium Mira, sekali dua kali hingga Mira kini meladeni ciuman dari suaminya, sementara Hyun Na yang ingin mencari udara segar tak sengaja melihat Pangeran dan Putri ini sedang menautkan bibir mereka begitu mesra.


"Lunas...." ucap Mira saat keduanya melepas ciumannya dan Shin tersenyum sambil mengusap wajah Mira, ia kemudian merangkul kembali pinggang istrinya.
"Dingin? punggungmu terlalu terbuka untuk udara dingin disini... "ucap Shin meraba da mengusap punggung Mira kemudian memakaikan jas Putihnya menutupi punggung Mira, dengan sebelumnya mencium pundak Mira.
"Kita kembali... aku lelah..."ucap Mira merangkulkan tangannya dilengan Shin.


"Nona Choi... sedang apa? begitu penat didalam hingga mencari udara segar seperti kami..."Tanya Mira. "Begitulah Putri Hwang... "jawab Hyun Na melirik kearah Shin, Mira menangkap maksud lirikan Hyun Na. "Kalian berbincanglah, aku kedalam dulu..."pamit Mira meninggalkan keduanya.


Mira berjalan masuk kembali kedalam, ia melepaskan jas putih milik Shin dan mengalungkannya dilengannya. Saat ia menuju lorong hendak kembali ke Istana Gwanshim, ia melihat Hyun Na dan suaminya berbicara dengan serius.


"Anda mencintainya Pangeran... mengapa dengannya anda begitu cepat melukakan luka anda... Pangeran, apa tidak ada ruang untukku... kita bisa mencobanya kembali seperti dulu, Pangeran... izinkan aku..."Pinta Hyun Na berkaca kaca.

"Nona Choi, lupakan.. itu sudah menjadi masa lalu dan kini aku sudah menikah... "ucap Shin meninggalkan Hyun Na.

"Nona Choi... Iya, aku mulai mencintainya tanpa aku sadari aku selalu ingin bersamanya membagi tawaku hanya dengannya... jangan kau mengharapkan sesuatu dariku..."ucap Shin kembali tanpa memandang Hyun Na.

"Pangeran, aku akan terus mencoba sampai kapanpun. sampai aku tidak memiliki tenaga lagi untuk mendapatkanmu.."teriak Hyun Na menangis.


Istana Gwanshim,
Mira berdiri lama didepan kamarnya, tangannya ragu membuka pegangan pintu. Wajahnya menoleh ke arah kamar Shin yang tertutup rapat, Ia kemudian membalikkan badannya melangkah ke arah kamar Shin dan masuk kedalamnya.


Satu jam kemudian Shin masuk kedalam kamarnya dengan membawa notebook juga satu berkas dokumen dari Man Bok, wajahnya terkejut namun kemudian tersenyum saat melihat Mira tertidur lelap diatas tempat tidurnya. Shin berganti pakaian, kemudian ia melihat secarik kertas dibawah segelas susu di Nakas sebelah tempat tidurnya.

"susu hangat untukmu untuk menghangatkan juga menghilangkan alkohol ditubuhmu, kau banyak minum malam ini, aku takut nantinya diperkosa olehmu yang sedang mabuk..... maaf, harus berbagi tempat tidur lagi denganku... aku pasti menyisakan ruang diatas tempat tidur ini untuk tubuhmu dan janji aku tidak akan mengganggu tidurmu... beristirahatlah, jangan terlalu banyak berkerja, masih ada hari esok...." pesan Mira diatas kertas.


Shin meletakkan notebook juga berkasnya kemudian naik keatas peraduannya, merebahkan diri disisi Mira, ia mengangkat kepala istrinya untuk tidur didadanya, Shin kemudian mencium kening Mira dan memejamkan mata dengan senyum sambil memeluk Mira.



TBC...........

wakakkakaak... MUPENG NUNGGU NC YACK....#PLAAAAKKK....
KAGA ADA NC... POKOKNYA KASIH YG ROMANCE2 AJA DAH...
Met Baca, n jgn lupa Komen yack....

Selasa, 07 Desember 2010

(FF) MY LADY...... TUJUH BELAS

Cast :
Jang Geun Suk as Prince Shin Young
Hwang Mi Ra as Princess Hwang
Kang Man Bok as Prince Shin Assistant
Lee Yoo Hye as Princess Hwang Assistant
Shin Mae Ri as Maid
Jung Ji Ae as Maid

Sebelumnya,
"Ahjumma, apakah aku harus mencintainya.. apa setiap pernikahan harus ada cinta.. Ahjumma, aku tidak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta, bagaimana rasanya dicintai, bagaimana rasanya cemburu... Ahjumma, apa aku harus mencintai suamiku.."
"Perlu bantuan.. aku memang bukan petani, dan tidak mengerti bercocok tanam, tapi bisakah kau mengajariku.. Istriku punya perkebunan besar, jadi aku ingin juga bisa berkebun agar bisa membantunya.. bisa ajari aku nona...?"tanya Shin.
"Satu bulan, aku ingin satu bulan disini... biar aku mengurus semua peninggalan keluargaku.."
"aku akan menemanimu hingga kau mau kembali ke istana, lagi pula desamu tempat yang sangat nyaman, aku juga ingin beristirahat menghilangkan penat..."Jawab Shin santai.

#17,
Ia Mencium bibir bawah Mira dengan lembut kemudian menggoda bibir atas istrinya itu, Shin makin merapatkan tubuhnya ia merangkul pingang Mira, ia terus mencium lembut bibir istrinya dengan lembut. Mira yang beberapa terdiam tidak tahu berbuat apa, akhirnya sadar dan menahan dada Shin dengan kedua tangannya melepaskan ciuman suaminya itu, lalu menatapnya tak percaya dengan apa yang dilakukan Shin, keduanya saling berpandangan.

"Pangeran........ ini tidak seharusnya dilakukan.... "ungkap Mira yang masih terkejut dengan ciuman Shin.
"Putri Hwang, kita sudah menikah jadi....."Shin tidak melanjutkan ucapannya karena Mira pergi keluar dari kamarnya dan langsung mengurung diri dikamar.


Shin memegangi bibirnya sesekali tersenyum, "Apa yang kulakukan tadi.... " bisiknya masih terus memegang bibirnya yang menyisakan kehangatan sentuhan bibir Mira.

Mira berdiri melamun dibalik pintu kamarnya, ia menggigit bibir bawahnya dan menutup mulutnya dengan tangannya, Mira masih melamun dan tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan, ia terus menyentuh bibirnya dengan jari2 tangannya, Mira naik ketempat tidur tetap terbayang dengan kejadian dikamar Shin.

Pagi Hari,
Shin terbangun melihat Mira yang sudah menyiapkan sarapannya, wajahnya begitu segar dan seolah2 tidak terjadi apa2. "Pangeran, sarapan dulu..."ajak Mira. "ahjumma... ???"tanya Shin. "Dia sedang pulang ke desanya besok baru kembali... pakaianmu sudah rapi, nanti aku letakkan ditempat tidurmu..."ucap Mira santai. "Putri, benar ingin aku pergi? aku akan disini sampai kau mau kembali denganku..."Jawab Shin yang meneruskan makannya. "Pangeran..."

"Sudah selesai, hari ini kita menanam atau memanen apa, biar aku bantu...? aku masih ingin bertani..."Ucap Shin dihalaman samping. "Terserah padamu Pangeran, aku masih ingin tinggal disini..."Jawab Mira yang mengambil keranjang dan mengikatnya dipinggangnya. Shin mengikuti langkah Mira menuju perkebunan jeruk miliknya.

"Bukan seperti itu, harus potong hingga pangkal batangnya untuk mengurangi pertumbuhan daun..."ucap Mira membenarkan Shin yang membantunya. "Kita harus terus mengurangi pertumbuhan daun dan dahan agar cepat berbuah, nantinya semua makanan yang berasal dari akar bisa dikonsentrasikan pada buah..."Terang Mira.
"karenanya pohon jeruk ini tidak tumbuh tidak terlalu tinggi namun sudah berbuah lebat..”Tanya Shin yang dianggukkan oleh Mira.
"apa ini manis... boleh aku mencobanya..."tanya Shin.
Mira mengupas jeruk untuk Shin membersihkannya lalu menyuapi suaminya. "Manis.. benar2 manis.."ucap Shin.
Mira menengadahkan tangannya, menyuruh Shin membuang biji jeruk ditangannya, Shin hanya menuruti kemudian kembali menikmati suapan demi suapan dari Mira, dan Mira terus mengadahkan tangannya mengumpulkan biji jeruk dari muut Shin yang kemudia dibuangnya saat dua buah jeruk habis dengan cepat dilahap Shin.

Menjelang Sore keduanya kembali, Shin terus mengikuti proses yang diajari Mira, hingga Jung Woo dan Nae Sang datang kembali.
“Jung Woo Ahjussi… datang lagi baru kemarin, apa ada buah yang rusak??”Tanya Mira.
“Semua habis Nona Hwang.. jerukmu manis sekali.. aku perlua stock untuk besok..”jawabnya bersemangat.
“Tapi aku tidak memiliki banyak stock, hari ini kami baru mengambil sedikit.. kalau mau timbanglah…”Ucap Mira.
“Nona Hwang, aku kini mempunyai seorang putera… istriku sudah melahirkan kemarin, buah dan sayur dari anda aku pergunakan untuk merayakan kelahirannya..”cerita Nae Sang.
“Syukurlah… siapa namanya?”Tanya Mira. “Belum aku beri nama, aku bingung Nona…”jawabnya sambil mengangkuti kardus jeruk dari gudang Mira.

“itu berat, tidak usah ikut…”Mira mencegah Shin yang ikut membantu.
“tenang, belut panggang kemarin harus dijadikan energy karena tak tersalurkan…”ledek Shin.
“Jangan berpikir macam2 Pangeran…”Mira cemberut.

“Nona, mau berikan nama untuk anakku…”Tanya Nae Sang sambil mengelap keringatnya.
“Hmmm, beri dia nama Shin Young… semoga ia tumbuh menjadi laki2 yang melindungi keluarganya, mencintai orang tuanya, menjadi sosok yang bertanggung jawab juga penyayang…”Ucap Mira.
Shin terdiam mengehentikan pekerjaannya, ia memandang Mira yang kelihatan begitu percaya diri memberikan nama juga doa dibalik nama yang diambil dari namanya.

“Ahn Shin Young… Bagus, semoga ia menjadi laki2 yang aku banggakan…”Jawab Nae Sang bersemangat.
“Ini uangnya Nona…”
“Ahjussi… ini lebih terlalu banyak….”
“ambil untukmu Nona, aku juga menjual lebih.. jadi kita berbagi keuntungan.. aku tidak mau merasakan keuntungan dari harga yang kunaikan hanya seorang diri…”Teriak Ahjussi.

“Kau tidak marah aku berikan namamu padanya bukan?”ucap Mira saat membalikkan badan melihat Shin masih menatapnya. “Hmm, doamu bagus dan penuh pengharapan.. andai aku seperti sosok yang ada didoamu tadi..”Ucap Shin tertunduk dan duduk diatas kursi.

“Pangeran, anda sudah menjadi sosok itu… aku mendoakan itu karena aku melihatmu.. tetap jadi Shin Young yang aku kenal…”jawab Mira duduk dibawah Shin memegang tangannya.
“tapi apa gunanya, aku selalu menghilangkan senyum diwajahmu dengan ucapan kasarku, bahkan kini kau ingin pergi dariku… untuk membawamu kembalipun aku tidak bisa… semoga bayi itu bisa menjadi seorang yang membanggakan orang2 disekelilingnya tidak seperti aku yang terlalu egois…”Ucap Shin datar sambil menatap Mira.

"Pangeran, ayo mandi kita jalan2... kau harus lihat kota kecil ini, lihat kantongku dari kemarin penuh... cepat mandi..."Mira menghibur Shin, ia menarik tangan laki2 itu dan mendorong tubuhnya untuk mandi.

Senja Dikota,
Shin menikmati kebersamaannya bersama Mira, gadis itu bercerita banyak tentang kotanya, ia juga kagum pada istrinya ini dimanapun ia melangkah selalu ada orang yang kenal dan menyapanya.
"ternyata saat berdua denganmu itu benar2 sangat menyenangkan... makin mengenal siapa dirimu.. aku benar merasa nyaman... "bisik Shin dihatinya sambil memegang erat tangan Mira.

"Kemari...."Mira menarik tangannya masuk kesebuah toko pakaian.
"Coba ini...."Mira memberikan beberapa kaos juga kemeja santai untuk Shin, Shin yang menerima pakaian itu bingung.
"Kau tidak seharusnya memakai pakaian Appa..... terlalu terlihat tua, aku tidak ingin ketampanan suamiku hilang hanya karena mengenakan pakaian abonimnya... ayo cepat.."Mira mendorong tubuh Shin masuk kedalam ruang pas.
Berulang kali Shin keluar memamerkan pakaian yang dicobanya namun semua digelengkan Mira karena tidak cocok, hingga mata Mira tertuju pada singlet putih dan jas non formal berwarna hitam berikut syalnya. Mira mengetuk ruang pas dimana Shin berada.

"lihat semua tidak ada yang cocok menurutmu... sudah biar aku mengenakan pakaian ini saja..."Ucap Shin saat membuka pintu kamar pas dan memberikan pakaian yang dicobanya pada seorang penjaga toko.
"coba yang ini..."Mira memberikan pakaian pilihannya. Shin tidak mengambil pakaian namun menarik tangan Mira masuk kedalam kamar pas. Para penjaga toko juga beberapa pengunjung melihat ulah keduanya. "Ini istriku, jadi percayalah... kalaupun berbuat sesuatu kami tidak akan ribut, tenang saja..."Shin mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar pas menjelaskan pada smua orang yang ada di toko itu yang hanya menggelengkan kepalanya, sementara didalam Mira memukul tubuh Shin.

"Pangeran.. jangan berbuat macam2 ini tempat umum..."Mira kesal dengan ulah Shin.
"Waeyo... aku melakukan pada istriku... biasanya kau yang menggoda sekarang mengapa kau yang takut..."jawab Shin yang membuka kaosnya hendak mencoba pakaian yang dipilihkan Mira.

Mira langsung berbalik badan melihat suaminya telanjang dada, Shin bukan langsung mengenakan pakaian tapi malah merapatkan tubuhnya pada Mira yang membelakanginya. Mira makin salah tingkah dan bingung dengan ulah Shin saat tangan Shin bertumpu pada diding kamar pas diatas kepala Mira, Shin menyandarkan dagunya dipundak istrinya itu.

"Kemarin bukan sudah lihat bagian atas tubuhku ini, mengapa sekarang kau harus membalikkan badan saat melihatnya kembali, takut??"ucap Shin berbisik ditelinga Mira sambil tersenyum melihat istrinya yang gelisah dan salah tingkah.
"Pangeran, ini tempat umum... cepat coba baju itu, atau kita tidakperlu membelinya dan cepat pergi dari sini..."ucap Mira gugup, masih membelakangi Shin.
"Bagaimana bisa mencobanya kalau pakaian itu kau pegang erat ditanganmu.."ucap Shin yang kini mulai merangkul pinggang Mira.
"Ini.. cepat pakai atau tidak sama sekali..."Ujar Mira membalikkan tubuhnya menghadap Shin, memberikan pakaian pilihannya dan melepaskan tangan Shin dari pinggangnya.
Mira melihat Shin yang mencoba pakaiannya, Shin sering kali tesenyum dan melirik istrinya yang kini telah memberanikan diri memandang tubuhnya.

"Lihat mau mengenakan pakaian apapun suamimu ini tetap tampan... jadi tidak perlu khawatir, oh harus khawatir siapa tau ahjumma atau yeoja diluar sana akan memintaku tuk melamar mereka untuk menjadikannya istri kedua, ketiga..."ledek Shin sambil berkaca.
"Tidak perlu, yang pasti ada Hyun Na yang terlebih dahulu menunggu untuk dijadikan istri, tenang saja nanti aku akan melamarkannya untukmu...."jawab Mira santai.

Shin menoleh pada Mira, ia berdiri tepat dihadapannya menatap tajam istrinya, "karenanya kau pulang kerumahmu, dan pergi dari istana bahkan tidak mau melihatku lagi..."ucap Shin dingin.
"bukan... maksudku tidak seperti itu.. Pangeran.."Mira gugup karena Shin salah kira.
"sudahlah... aku turuti apa maumu... aku antar kau pulang..."Shin melepaskan pakaian yang dicobanya.
"Bukan itu maksudku... Shin Young Oppa... aku tidak bermaksud seperti apa yang kau pikirkan.. kenakan kembali pakaian ini.. mianhae... suamiku benar terlihat tampan dengan ini..."Ucap Mira mengenakan kembali jas dan syal pada Shin yang diam melihatnya.

"Benar kau tidak ingin kembali? benar ingin memberikanku pada Hyun Na?"Tanya Shin terus menatap Mira yang sibuk mendandaninya menghindar dari pandangan Shin.
"Sudah selesai... suamiku memang tampan... ayo, kita makan atau mencari es krim aku haus..."ucap Mira.
"Hwang Mi Ra... tidak ingin lagi menjadi istriku? bila iya, aku tidak akan mengganggumu lagi..."Shin memegang wajah Mira menunggu jawaban darinya.
"Aku sudah menjadi istrimu sekarang dan selamanya... oppa, jangan pandang aku seperti itu aku takut tidak ingin melepaskanmu selamanya... kita keluar nanti orang2 mengira macam2 pada kita... "ajak Mira memegang tangan Shin dipipinya.

Shin mendekati wajah istrinya yang masih dalam kurungan kedua tangannya, ia mengulangi kembali kejadian semalam, Mencium Mira. Mira diam menerima ciuman hangat dan lembut dari suaminya, Shin berkali kali mengecup bibir Mira, ia mengambil bibir bawah gadis itu lembut bergantian dengan bibir atasnya yang mungil saat ia membuka mulutnya menerima undangan dari bibir Shin. Ibu jari Shin mengusap lembut wajah Mira yang bibirnya masih ia penjarakan oleh bibirnya, mereka berdua menikmati ciuman itu untuk beberapa saat hingga Shin melepaskan ciumannya. Mira menundukkan kepalanya, Shin yang masih memegang wajah Mira menciu kening istrinya lalu ikut menunduk hingga kening dan ujung hidung mereka beradu, Keduanya kemudian berpelukan.

"Aku lapar... diciummu tadi membuat kulapar... kita pergi dari sini..."Ajak Mira dalam pelukan Shin, Shin tersenyum mengusap lembut kepala Mira.
Mira membayar pakaian Shin kemudian keluar dari toko dengan dilepas pandangan juga senyuman dari orang2 yang ada ditoko itu karena mereka terlalu lama dikamar pas. Sepanjang jalan menikmati senja hingga malam hari keduanya terus bergandeng tangan, sesekali Mira bergayut manja dipundak Shin, begitu pula Shin terkadang ia merangkul pinggang kecil Mira. Mereka benar2 meghabiskan waktu bersama, hingga saat perjalanan pulang Mira tertidur.

Sesampainya dirumah Mira, Shin tidak membangunkan istrinya, ia menggendong Mira lalu menidurkannya dikamar gadis itu. Shin menyingkirkan rambut yang ada diwajah Mira, ia tersenyum memandang Mira yang lelap tertidur, kemudian ia mencium kening Mira membenarkan selimutnya lalu pergi membiarkan Mira terbuai mimpi.

Pagi Hari,
"Oppa.... Shin Young Oppa... Pangeran Shin..."Mira berteriak mencari Shin setelah mandi ia tidak menemukan suaminya.
"Nona, suamimu ada dihalaman depan..."tegur Ahjumma.
"Ahjumma, sudah datang.... "Tanya Mira yg dijawab senyum kemudian ia keluar mencari Shin yang sudah rapi.
"Ingin pulang hari ini? Oppa.. Pangeran, sudah berkemas.."Tanya Mira pada Shin yang sedang membersihkan mobilnya.
"Hmm, sebulan lagi aku jemput... kau ingin sebulan disini, atau kapanpun kau ingin pulang aku akan menjemputmu..."jawab Shin tersenyum.

"Pangeran...................."bisik Mira. "Oppa... panggi aku oppa seperti tadi... "ucap Shin mendekati Mira.
"Ahjumma, aku titip istriku... ia masih ingin tinggal disini, aku akan menjemputnya segera..."pamit Shin pada Ahjumma.
"Aku pergi, jaga kesehatan... jangan keluar rumah tanpa baju hangat.. hubungi aku saat kau ingin kembali.."bisik Shin mencium kening Mira. Mira memegang erat tangan Shin, jarinya satu persatu terlepas dari genggaman saat Shin berjalan menjauh memasuki mobilnya. Shin tersenyum saat ia membuka pintu mobilnya.
"Oppa.......... aku ikut pulang bersamamu hari ini.........."Mira berteriak pada Shin. Shin hanya tersenyum senang mendengar teriakan istrinya. "aku ganti baju dlu, tunggu sebentar..."ucap Mira.
"Ahjumma, menunggunya aku inginkan sesuatu............"pinta Shin pada ahjumma yang masih tersenyum lalu tertawa bahagia untuk pasangan itu.

"Ahjumma, apa ini...?"tanya Mira melihat begitu banyak hasil kebunnya disebelah mobil Shin.
"Tanyakan pada suamimu...."jawab ahjumma melirik Shin.
"Sudah jauh2 datang kemari. apa tidak ingin memberiku oleh2 atau upah karena sudah membantumu..."Ucap Shin.
"Suruh dia membuat kimchi aku sudah membawakan banyak sayuran untukmu..."Ujar ahjumma yang begitu senang tergambar di raut wajahnya.
"Benarkah... gomawo... sekembalinya kau harus memasak untukku..."pinta Shin memandang Mira.
"ahjumma aku pergi, hati2, jaga kesehatanmu.."Pamit Mira. Shin merangkul pinggang Mira membimbingnya masuk kedalam mobil lalu keduanya kembali ke istana.


TBC.........

Jumat, 03 Desember 2010

(FF) MY LADY...... Enam Belas

Cast :
Jang Geun Suk as Prince Shin Young
Hwang Mi Ra as Princess Hwang
Kang Man Bok as Prince Shin Assistant
Lee Yoo Hye as Princess Hwang Assistant
Shin Mae Ri as Maid
Jung Ji Ae as Maid

Sebelumnya,
"Putri Hwang pernah jatuh dari kuda seminggu sesudah rombongan Mr. Dunt datang??" terang Yoo Hye takut.
"Selama itu?? Yoo Hye bagaimana bisa kalian menyembunyikan ini dariku..."Shin marah.
"Bagaimana bisa kau menyembunyikan sakitmu Putri... bagaimana bisa kau menyimpan semua apa yang kau rasakan... sekarang kau tidak sendiri, banyak orang disekelilingmu..."Shin bicara sendiri menatap Mira.
"Tidak bisakah anda melakukannya sekarang Dr. Kim... Pangerang sedang keluar kota dalam beberapa hari baru kembali.. tolong lakukan sekarang aku tidak ingin mengganggu tugasnya.." pinta Mira.
"Pangeran, maksudku aku ingin mengajakmu ke..."
"Putri, aku bilang aku tidak akan mengganggumu, jadi tolong jangan ganggu aku dengan semua ulahmu..."ucap Shin keras membentak Mira.
"Pangeran, aku pergi... hari ini aku ingin mengenakan hanbok pemberian anda... maaf bila selalu merepotkanmu... mungkin ini terakhir kalinya... maafkan aku..."Pamit Mira.

#16,
"Ahjumma... Aku pulang.... Ahjumma, ini Hwang Mi Ra kembali... "teriak Mira memanggil pengasuhnya.
"Nona.... "Ahjumma membukakan pintu. "kau dari makam, sudah merayakannya... mengapa sendiri? suamimu?..."Ahjumma memberondong pertanyaan pada Mira yang datang dengan mengenakan hanbok namun sendiri.
"Ahjumma.... ahjumma, aku ga sanggup..."Mira langsung menangis dipelukkan pengasuhnya.

Mira tidur dipangkuan pengasuhnya yang mengusap lembut rambut Mira.
"ahjumma, bila aku tidak kembali ke Istana... apa mereka kecewa (orang tua)... ahjumma, apa aku selalu merepotkan, selalu menyusahkan semua orang...?" Tanya Mira.
"Apapun keputusan Nona, mereka pasti bisa mengerti... Nona, tidak pernah menyusahkanku.. semua nona lakukan sendiri.. Nona begitu mandiri sampai aku tidak tahu kapan nona terluka bersedih hati, karena selalu senyum ini yang ada diwajah putriku ini.."jawab Ahjumma menunjuk sudut bibir Mira yang tersenyum.
"Apa nona tidak mencintai Pangeran Shin?" Tanya ahjumma.
"Ahjumma, apakah aku harus mencintainya.. apa setiap pernikahan harus ada cinta.. Ahjumma, aku tidak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta, bagaimana rasanya dicintai, bagaimana rasanya cemburu... Ahjumma, apa aku harus mencintai suamiku.."Mira memandang ke langit sementara Ahjumma terus mengusap kepalanya.

"Bagaimana sikap Pangeran padamu nona?"
"Terkadang dia begitu menyebalkan hanya memikirkan dirinya sendiri.. terkadang dia begitu menyenangkan walau tak terlihat namun tersirat ia begitu melindungi dan mengkhawatirkanku, aku menyukai wajahnya saat ia cemberut dan hilang kata2 kala menyerah dengan ledekanku, aku menyukai caranya melindungiku, aku seperti memiliki seorang Oppa, namun kini aku lebih sering merasakan sakit bila ia memarahiku, membentakku, berteriak padaku... aku seperti benalu pengganggu untuknya, aku seperti orang yang tidak ada gunanya dihadapannya.. ahjumma, hatiku terlalu sakit saat ia memarahiku didepan orang lain... aku lebih merasa nyaman saat dia bersikap dingin kepadaku.. namun saat ia mulai berteriak dan membentakku aku merasakan sakit dan sesak didada ini... begitu hinanya aku untuknya ahjumma, aku tidak ingin kembali padanya, ahjumma aku ingin sendiri..."Mira menitikkan airmata membalikkan wajahnya menangis diperut pengasuhnya.

"Nona Hwang... kau mencintainya... kau mulai menyintainya... kau mulai tergantung padanya... kau mulai merasakan sakit saat ia tidak menganggapmu ada... mulailah buka hatimu, lihat dan rasakan cintamu anakku... kebersamaan selama dua tahun seringnya bertemu, kalian pasti bergantung satu sama lain, aku yakin Pangeran juga merasakan sakit dihatinya saat tidak melihat senyum diwajahmu, saat kau tidak meledeknya, saat kau mendiamkannya... Tuan Besar, Cucumu sedang jatuh cinta..."Ucap ahjumma tersenyum.
"Ahjumma, apa benar yang ahjumma bilang... apa itu namanya jatuh cinta.."Tanya Mira.
"Sekarang, apa kau merasa kesepian, tidak ada orang yang ingin kau ganggu, tidak ada orang yang ingin kau goda, tidak ada orang yang memarahimu, menemanimu, mengkhawatirkanmu...?"Tanya Ahjumma, Mira menganggukan kepala.
"Itu namanya jatuh cinta anakku sayang... kau mulai tergantung padanya, salahmu tidak pernah merasakan jatuh cinta, tapi malah langsung menikah... Istirahatlah, semoga Pangeranmu datang menemuimu dalam mimpi.. aku yakin dia juga sedang bersedih hati karena kau tidak menggoda dan mendiamkannya... kalian pasangan yang aneh, tidurlah... Hanbok ini, mirip hanbok yang kau buat dari kain yang ditinggalkan ibumu..."tanya Ahjumma.

"Hmm, ini pemberiannya waktu kami menikah, aku juga tidak menyangka kalau mirip, hanbokku kini aku berikan pada isteri duta besar... ahjumma, karena hanbok ia membentakku depan orang lain, padahal aku menyimpannya, menyimpan semua pemberiannya... untuk pertama kalinya sejak menjadi istrinya aku merasakan sakit karena omelannya... ahjumma, benarkah aku mulai mencintainya... dia pernah terluka ahjumma, aku hanya sebatang kara, aku takut bila apa yang ahjumma bilang itu benar.. aku tidak ingin sakit hati dan menyakitinya lagi... ahjumma, hatinya sudah lama beku pasti dia tidak ingin jatuh cinta padaku.. diawal pernikahan perjanjian kami hanya menjadi pendamping satu sama lain dan membahagiakan Ibu Suri, Permaisuri, juga Yang Mulia... sampai hari ini aku masih memegang janjiku, kalaupun aku mulai jatuh cinta, aku ingin melupakannya ahjumma, aku sudah janji padanya dan aku tidak ingin ia terluka lagi.. lagipula ada gadis yang masih menunggunya.. ahjumma, suatu hari aku pasti harus pergi darinya bila memang aku mencintainya atau cintaku terlalu besar untuknya..."Ucap Mira pergi kekamar meninggalkan pengasuhnya.

"Dia benar2 sedang jatuh cinta, akhirnya Putriku jatuh cinta..."Bisik ahjumma tersenyum.

Istana Gwanshim,
"Man Bok ahjussi, apa Putri ikut bersama Pangeran...?"Tanya Yoo Hye ditelepon.
"Tidak, Putri Hwang tidak bersama Pangeran... Putri pergi sendiri saat Pangeran pergi, tanya Mae Ri ia melihat Putri Pergi... Ada apa... Lee Yoo Hye, apa terjadi sesuatu dengan Putri..."Tanya Man Bok.
"Aku tanya pada Mae Ri dulu, aku belum bertemu dengannya dari pagi hingga malam ini...nanti aku kabari ahjussi.."

Pulau Jeju,
"Ada masalah Kang Man Bok...?"Tanya Shin yang selesai mandi dan duduk dimeja kerjanya.
"Yoo Hye, menanyakan Putri..."Jawab Man Bok. "Putri...?? Belum kembali??" Tanya Shin melihat jam.
"Sudah malam... tanyakan kembali apa ada kabar tentang Putri.. udara dingin, Putri bisa sakit..."Perintah Shin.
"Putri pergi dengan membawa berbagai perbekalan seperti akan merayakan sesuatu Pangeran.."Lapor Man Bok beberapa saat setelah menelpon Yoo Hye.
"Perayaan???"Shin bicara sendiri. "Istirahatlah Kang Man Bok, aku juga lelah..."Ucap Shin meletakkan dokumen dimeja kerjanya dan diam berdiri diluar kamar.
"Perayaan? dia tidak mengatakan apapun tentang perayaan....."Shin bergumam sendiri, Tiba2 Shin ingat....

"Bisakah kau ijinkan aku untuk pergi ke...."
"Pangeran, maksudku aku ingin mengajakmu ke..."
"Man Bok Ahjussi... tolong jaga Pangeran Shin, jangan biarkan ia lelah dan terlalu banyak bekerja... aku titip pada anda, ahjussi..."
"Pangeran, aku pergi... hari ini aku ingin mengenakan hanbok pemberian anda... maaf bila selalu merepotkanmu... mungkin ini terakhir kalinya... maafkan aku..."

"Mira... Hwang Mi Ra...."Shin bergegas masuk kedalam kamarnya dan berganti pakaian, ia keluar kamar hotelnya.
"Kang Man Bok... "Shin mengetuk Pintu kamar Man Bok. "Pangeran..."
"acara besok... katakan apa acara besok..."Tanya Shin Panik. "Hanya penandatanganan kerja sama... ada apa Pangeran?" Tanya Man Bok. "aaaaargh.... Hwang Mi Raaaa...... "Shin memukul dinding kamar hotel Man Bok melampiaskan kekesalannya, Man Bok bingung melihat ulah Pangerannya.

"babo... argh... mengapa bisa aku tidak menyadarinya... Putri Hwang... Hwang Mi Ra... mengapa aku bisa sekasar itu padanya... hari itu ia mengajakku keperayaan apa... hanbok, hanbok itu masih ada padanya, dia mengenakan itu.. Putri Hwang perayaan apa sebenarnya... babo Shin Young... aku benar2 tidak mengenal siapa wanita yang selama dua tahun ini ada bersamaku... Hwang Mi Ra, mengapa aku harus gelisah memikirkanmu... apa aku benar2 mulai mencintainya, mulai bergantung padanya, selalu ingin dia ada disisiku... jika benar dia pergi.... Hwang Mi Ra... Putri Hwang, apa benar ia ingin pergi dariku, tidak tahan dengan ulahku..."Shin tidak tidur, pikirannya hanya tertuju dan mengingat seluruhnya tentang Mira.

Kediaman Mira,
"Ough, Nona Hwang... anda kembali... "
"Nde Jung Woo ahjussi... ambil jeruk hari ini... "sapa Mira pada seorang pedagang yang biasa mengambil hasil perkebunannya.
"Ini uangnya Nona... aku buru2, istri Nae Sang akan melahirkan..."ucap Ahjussi sambil memberikan uang pada Mira
"benarkah?? oh, chukae.. bawa ini untuk istrimu Ahn Nae Sang-ssi..."Mira mennyerahkan sekerang buah dan sayuran.
"gomawo agashi..."Nae Sang membungkuk. "Ahjumma, sedang pulang? aku tidak melihatnya..?"tanya Jung Woo.
"Nde ahjussi, lusa baru kembali..."jawab Mira.
Sesaat mereka pergi, Mira menuju perkebunannya yang berada dibelakang rumahnya, ia kembali menyibukkan diri mengurus peninggalan orang tuanya.

Pulau Jeju,
Shin menyelesaikan segalanya dengan lebih cepat dari jadwal sebelumnya, ia segera kembali ke istana Gwanshim dan bertemu dengan Yoo Hye. "Putri Hwang sudah kembali? Ibu Suri juga Permaisuri tidak tahu berita ini bukan?"tanya Shin pada Yoo Hye dikamar Mira.
"Belum Pangeran, Ibu Suri juga Permaisuri mengira Putri pergi bersama Pangeran.... "Jawab Yoo Hye.
Mata Shin tertuju pada kalender yang bersebelahan dengan foto keluarga Mira, Perayaan Kematian Orang Tua Mira, melingkar ditanggal dimana ia pergi ke Pulau Jeju juga Mira berpamitan padanya.
Shin langsung pergi meninggalkan istana Gwanshim memacu kendaraannya dengan cepat, ia berhenti didepan gerbang makam orang tua Mira saat sore hari, namun kembali memutar memacu kendaraannya menuju kediaman Mira.

Kediaman Mira,
Shin menghentikan kendaraannya, dalam mobilnya ia memandang rumah Mira yang sepi, tidak terlihat orang sama sekali. Shin keluar dari dalam mobil berjalan perlahan memasuki halaman rumah Mira, lama ia berdiri didepan rumah yang sepi itu, hingga ia mendengar suara disebelah rumah. Raut wajah Shin yang panik dan tegang berubah, ia menghela napas panjang saat menemukan Istrinya yang sedang menanam. Mira tidak menyadari seseorang datang mendekatinya, ia asyik membuat lubang ditanah untuk mulai menanam benih tomat dihalaman samping yang tak terpakai. Saat ia bergerak mundur menaburkan benih....
"Perlu bantuan.. aku memang bukan petani, dan tidak mengerti bercocok tanam, tapi bisakah kau mengajariku.."Ucap Shin yang mengejutkan Mira. "Pangeran......"
"Aku mau bantu, boleh tidak? Istriku punya perkebunan besar, jadi aku ingin juga bisa berkebun agar bisa membantunya.. bisa ajari aku nona...?"tanya Shin meledek Mira sambil tersenyum.
"sebentar..." jawab Mira mengambil sepasang Boot.

Mira duduk bertopang lututnya ditanah, ia mengangkat kaki kiri Shin membuka sepatu dan kaos kakinya, Mira meletakkan kaki Shin diatas pahanya kemudian menggulung celana bahannya dan memakaikan boot, begitu juga dengan kaki kanannya. Shin awalnya risih akhirnya diam karena Mira menahan kakinya meneruskan pekerjaannya mengganti sepatu Shin. Mira bangkit dibantu Shin dengan menggapai tangannya, Mira kemudian menggulung kemeja Shin hingga diatas sikunya dan memakaikan celemek, Shin diam tidak bicara sama sekali, ia hanya menikmati pelayanan istrinya, pandangannya tak lepas dari Mira. "Sudah... kemarilah biar cepat selesai, hari sudah sore.."Mira menarik tangan Shin.

Ia mengajai Shin membuat lubang untuk menanam benih pada tanah yang sudah diberi pupuk olehnya, Shin langsung mempraktekkan apa yang dikatakan Mira. "Kurang dalam, nanti akarnya tidak cukup kuat menunjang, ini ada tanda.. ini jadi panduan untukmu Pangeran..." Mira menerangkan kesalahan Shin dan memperbaiki.
Dua jam berselang semua benih tertanam, Mira menyiapkan air panas untuk Shin mandi, Shin hanya duduk diam melihat semua apa yg dilakukan Mira.
"Mengapa dia bisa seolah2 tidak terjadi apapun... Mira, bagaimana bisa... seharus dia bisa saja marah karena aku terakhir kali meneriakinya hingga terdengar oleh mereka, harusnya ia marah karena aku tidak menemaninya saat ia berdoa dihari kematian orangtuanya... sikapnya seperti tidak terjadi apa2 walau dia banyak diam.."Bisik Shin dalam hati.

"Kemarilah... air hangatnya sudah siap..."Panggil Mira pada Shin.
"Maaf... Buka bajumu Pangeran biar aku membersihkan tubuhmu.."Ucap Mira saat mellihat Shin bingung.
Mira membuka kemeja Shin lalu buka singlet yang dipakainya, Shin tampil telanjang dada dihadapan Mira, sejenak Mira diam tertunduk merasa risih melihat tubuh Shin untuk pertama kalinya, Shin sedikit menunduk mencari pandangan Mira yang membuang pandangannya dari Shin. "Kau yang meminta mengapa sekarang harus berpaling Putri..."ledek Shin.
"Duduklah dikursi kecil itu... aku akan membersihkanmu..."ucap Mira datar.

Mira mulai membasuh kepala Shin dengan air dan mengeramasinya, kemudia Mira melap punggung Shin, Laki2 itu hanya diam menikmati perlakuan Istrinya yang memanjakannya hari ini, tiba saat Mira membersihkan dada Shin, Shin terus tidak melepaskan pandangannya pada gadis itu, Mira sedikit melirik namun ia langsung kembali pada aktifitasnya menghindari tatapan Shin. Mira mengeringkan tubuh Shin dengan handuk, lalu ia mencuci pakaian Shin tadi, Shin masih terus melihat apa yang dilakukan istrinya, Shin mengalungkan handuknya dan perlahan mendekati Mira yang mengisi air membilas pakaian Shin. Shin menarik tuas penampung air tepat diatas mereka saat ia mendekat pada Mira dan.....

Byuuuuuuuuur.....

"Oppa.... humph... Shin Young Oppa.... "Jerit Mira melap wajahnya yang basah. "Panggil lagi... Oppa?? mengapa harus basah baru kau teriak "OPPA"... katakan lagi... oppa..."Wajah Shin mendekati wajah Mira yang basah. Mira menghindar pergi dari hadapan Shin yang tersenyum puas.

Malam Hari,
"Aku tidak masak... kita makan di Pojangmacha, sup buatan ahjumma itu sangat enak... ayo..."Ajak Mira menarik tangan Shin yang duduk diberanda sambil menikmati teh panas.
"desa ini terpencil... jadi tidak perlu khawatir mereka mengenalimu... tolong panggil aku Hwang Mi Ra tanpa Putri, agar tidak membuat keributan.. "ucap Mira sepanjang jalan.
"Tidak ingin pulang, kembali ke istana..."Shin mengutarakan maksudnya. "Biar aku disini dulu Pangeran.."jawab Mira.
"satu hari lagi aku temani sesudah itu kita kembali ke Istana.."Pinta Shin.
"Satu bulan, aku ingin satu bulan disini... biar aku mengurus semua peninggalan keluargaku.."ungkap Mira.
"Aku akan menemanimu disini... "jawab Shin singkat. "Pangeran tugasmu pasti banyak yang terbengkalai, biarkan aku disini... aku juga tidak akan mengganggumu..."kata Mira cemas.
"Itu Pojangmachanya... ayo, aku lapar....."Shin menarik tangan Mira, menghindari pernyataan Mira.

"Young Jin Ahjumma... sup dua..."teriak Mira sambil membantu Young Jin. "Kapan kau kembali anakku... aku merindukanmu.."Peluk ahjumma pada Mira, Shin tersenyum. "Itu suamimu... tampan... annyeong.."sapa Young Jin pada Shin. " Seo Il Ahjussi... sepertinya ahjumma menyukai suamiku, hati2..."Bisik Mira membuat sepasang suami istri itu tertawa. "Ini Sojunya, hanya satu botol untuk menghangatkan tubuh.. tidak boleh lebih..."Ucap Mira menyediakan Soju pada Shin. "Mengapa ahjumma dan ahjussi itu memandangku... apa wajahku seperti penjahat yg akan menculikmu?" Tanya Shin. "aku beritahu yang sejujurnya... mereka bilang kau tampan suamiku..."ujar Mira. "Begitukah?? Mengapa harus orang lain yang mengatakan aku tampan tapi istriku tidak..."Jawab Shin meminum segelas Soju.
Mira membungkuk diatas meja mendekati wajah Shin dan memperhatikan dengan seksama, Shin meletakkan gelasnya melipat tangannya dan mendekati wajah Mira, jarak mereka begitu dekat bahkan ujung hidung hampir bersentuhan, Mira mengernyitkan dahinya terus memandan Shin. "Ternyata tampan Juga... oh, bagaimana aku baru menyadari kalau memiliki suami yang tampan... "Mira langsung mundur menjauh dari wajah Shin saat laki2 itu hampir mendekati bibirnya.
"Ini Supnya... selamat makan..."Ucap Mira menyediakan makanan pesanan mereka.

Shin diam dan bingung dengan makanan dihadapannya, Mira melihat itu segera berpindah tempat duduk disebelah Shin dan membantu mengaduk dan menyajikan makanan untuk Shin. "Ini... tinggal disuap saja.."Mira memberkan mangkuk Sup pada Shin. "aku ada belut panggang... cobalah, ini sangat bagus apalagi untuk pengantin baru seperti kalian..."Ucap Ahjumma. "Jangan Ahjumma.... "Ucap Mira menghalangi. "Aku sangat menyukainya, berikan padaku ahjumma... "Ucap Shin bersemangat. "Oh, apa jadinya malam ini dikamar kalian... mengapa keduanya begitu bersemangat..."ledek ahjumma memberikan belut panggangnya namun langsung direbut Mira dan memakannya habis.
"Yak! bagaimana kau bisa menghabisinya tanpa berbagi denganku.. harusnya aku yang memakan.."protes Shin pada Mira. "Tenang... ini untukmu... makanlah, nanti layani istrimu dengan baik..."Ucap ahjumma tersenyum memberikan porsi terakhir pada Shin yang langsung melahapnya. Mira hanya memandang Shin yang tersenyum menang tanpa bicara dengan sumpit yang masih diujung bibirnya.

Keduanya kembali berjalan sekembalinya dari pojangmacha, Shin meraih tangan Mira dan menggenggamnya erat. Mira hanya melihat dan membiarkan ulah Shin. "Besok kembalilah ke Istana Pangeran... barkan aku disini.."Ucap Mira memecah kebisuan mereka. "aku akan menemanimu hingga kau mau kembali ke istana, lagi pula desamu tempat yang sangat nyaman, aku juga ingin beristirahat menghilangkan penat..."Jawab Shin santai menatap langit sambil memainkan gandengan tangan mereka. "Pangeran, tapi itu tidak baik... tugasmu akan terbengkalai, kasihan Yang Mulia.."Ucap Mira memelas mencairkan sikap Shin yang keras kepala. "Kau kasihan pada Yang Mulia tapi kau tidak kasihan padaku..."ujar Shin melepaskan pegangannya lalu berjalan mendahului Mira.

"Pangeran.. aku hanya tidak ingin merepotkanmu..."Mira mengejar Shin dan menggandeng tangan suaminya itu. Shin diam ia meraih tangan Mira mengepalnya didadanya.

"Itu pakaian gantimu.. tempat tidur sudah kurapikan, ini air minum bila kau haus.. beristirahatlah..."Ucap Mira menyiapkan kamar untuk Shin.
"Kita tidur terpisah, apa gunanya belut dari ahjumma tadi..."ledek Shin santai.
"Jangan berpikir yang macam2 Pangeran.... Kita terbiasa tidur terpisah... tidurlah.."Jawab Mira cemberut.
"Putri Hwang...."Shin menghentikan langkah Mira yang hendak meninggalkannya.
"Ini hadiah untukmu... maafkan aku, karena tidak pernah mengetahui hari ulang tahunmu..."Ucap Shin menunjukkan kalung berliontin meteor ditengah lingkaran garis galaxy.
"Pangeran, tidak perlu repot..."Ucap Mira sedikit terkejut dan menolaknya. "angkat rambutmu... "Pinta Shin yang memasangkan kalung itu dileher Mira.

Shin membalikkan tubuh Mira yang memunggunginya, ia menatap kalung yang dikenakan istrinya itu, Shin memegang pundak Mira erat dan memandang wajah Mira. "Bukan maksud mengurungmu bagai meteor ditengah itu, tapi aku kam semua membuat lingkaran untuk melindungi dan selalu bersamamu dimanapun Hwang Mi Ra..."Ucap Shin menerangkan arti liontin itu pada Mira. "Terimakasih Pangeran, harusnya anda tidak perlu repot..."Ucap Mira tersenyum.

Shin merapatkan tubuhnya pada Mira, ia terus menatap tajam istrinya tersebut, Mira mundur hingga merapat pada pintu kamar, Shin tiba2 mencium bibir Mira yang masih rapat. Mira terkejut mendorong tubuh Shin menjauh darinya. "Pangeran, apa yang anda lakukan.... hump..."Ucap Mira terhenti saat Shin kembali mencium bibirnya.
Ia Mencium bibir bawah Mira dengan lembut kemudian menggoda bibir atas istrinya itu, Shin makin merapatkan tubuhnya ia merangkul pingang Mira, ia terus mencium lembut bibir istrinya dengan lembut. Mira yang beberapa terdiam tidak tahu berbuat apa, akhirnya sadar dan menahan dada Shin dengan kedua tangannya melepaskan ciuman suaminya itu, lalu menatapnya tak percaya dengan apa yang dilakukan Shin, keduanya saling berpandangan.


BERSAMBUNG..............
wakakakakakak, nyak kasih dah tu Kissu....

FYI :
EELs pasti dah tau klo si Mr. Jang ini suka banget ma belut makanya nyak masukin tu belut di ini Part..
dah niat banget dari awal punya ide ni epep...
cuma apa dan kenapa yang terkandung di Belut... ini die...
Belut memiliki kandungan PROTEIN TINGGI yang baik untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan energi.
Selain itu Belut juga mempunyai manfaat lain yaitu kandungan afrodisiak atau pembangkit gairah seksual terutama bagi kaum lelaki. *makanya tu ahjumma ngebet bgt ngasih hadiah ni makanan buat Shin, biar ehem2 dah*
wakakakakakak, tadi siang sempetin nanya ma temen soale lupa nama kandungannya yang bikin gairah ntu....

Senin, 29 November 2010

(FF) MY LADY...... Lima Belas

ALL....
THANKS YANG SUKA SAMA FF INI...
TP PLISS, KOMEN YANG SOPAN...
NULIS FF BUKAN KYK NULIS REVIEW DRAMA YG DAH ADA VISUALNYA...
TUK NULIS REVIEW N SPOILER DRAMAPUN JUGA BUTUH MOOD YG EXTRA..
BIAR VISUAL MA TULISAN DAPET N BISA DIMENGERTI YG BACA...
PALAGI NULIS FF.... JADI PLISS SABAR N TETEP SOPAN...
TERSERAH MO DIBILANG SOMBONG or BELAGU...
KLO ADA KOMEN KAYAK ITU LAGI... 
BLOG INI DITUTUP... MAAF SERIBU MAAF...


Cast :
Jang Geun Suk as Prince Shin Young
Hwang Mi Ra as Princess Hwang
Kang Man Bok as Prince Shin Assistant
Lee Yoo Hye as Princess Hwang Assistant
Shin Mae Ri as Maid
Jung Ji Ae as Maid

Sebelumnya,
"Pangeran, kau yang bilang terserah aku melakukan apapun sesukaku... apa harus kau selalu membentak dan marah saat aku melakukan hal yang tidak kau suka, kalau begitu aku akan menunggu dan menuruti semua perintahmu saja,... Maaf, maafkan aku Pangeran... aku sedikit lupa akan statusku hanya karena kebaikan dan keramahanmu... jangan pernah baik padaku, jadilah Pangeran Shin Young seperti pertama kali yang kukenal dulu... baik, aku tidur dikamar sesuai permintaanmu..."jawab Mira pergi meninggalkan Shin.
"Anda mencintai Putri Hwang, Pangeran Shin..."Tanya Hyun Na.
"Nona Choi.. kalau kau mengira perkenalanku dengan Putri Hwang terlalu cepat dan pernikahan kami yang terkesan terburu membuatmu berfikir aku tidak mencintainya itu benar... tapi kini Putri Hwang adalah istriku dan wanita yang ada disisiku setiap hari, aku harap kau bisa menerima bila suatu hari nanti aku akan berusaha mencintainya...."jawab Shin melepaskan tangan Hyun Na.
"Siapa Namamu.." "Siap bermain denganku... kita terbang sekarang..."Ucap Mira mendekati Alex, dan siap membawanya kepelana Kuda. "Putri, hati2..."ucapnya menyentuh paha Mira.

#15,
Jamuan Makan malam,
"Maaf bila tidak sopan... berapa usiamu Putri..."Tanya Raja Bhumibol.*bener ga yack namanya, smoga bener, nti tanya Kookie dah*
"kemarin 21 tahun Yang Mulia.."jawab Mira. "KEMARIN?? perlu kita rayakan kalau begitu.."Ucap Raja Bhumibol.
"tidak perlu Yang Mulia, sebelum kemari keluargaku sudah merayakannya bersamaan dengan ulang tahun pertama pernikahan kami..."jawab Mira tersenyum, Shin terkejut mendengarnya ia tidak tahu kalau hari pernikahan mereka sama dengan hari ulang tahun Mira.
"aku benar2 tidak tahu siapa wanita disisiku saat ini, aku benar2 tidak mengenalnya... Ulang Tahun? kemarin kami hanya merayakan ulang tahun pernikahan, berarti istana juga tidak mengetahui hari itu ulang tahunnya..."bisik Shin dalam hati.
"owh, kalau begitu aku akan memberi 2 hadiah untuk anda, hadiah pernikahan juga hadiah ulang tahun..."Ucap Raja Bhumidol yang disertai senyum Mira.

@Hotel,
"Makin biru Putri... anda harus periksa ini..."ucap Yoo Hye yang merawat lebam dipinggul Mira.
"Sepulang dari sini saja, eonni oles krim agak banyak tidak apa... hentakan dipunggung kuda tadi buat nyeri pinggulku.."pinta Mira dan Yoo Hye menuruti.
"Ada sesuatu yang terjadi... berikan krim olesnya Yoo Hye biar aku yang merawat Putri.. kau beristirahatlah.."Shin tiba2 masuk kedalam kamar dan melihat Yoo Hye mengoles pinggang Mira. Mira langsung menurunkan bajunya yang terangkat dan merapatkan punggungnya ditembok.
"Ada yang luka, lebam, biar aku periksa Putri..."tanya Shin mendekat pada Mira yang makin merapatkan punggungnya ditembok.
"Tidak ada Pangeran, aku pegal karena lama tak berkuda.. terima kasih, aku benar tidak apa2.. Anda tidak perlu khawatir... aku permisi istirahat dlu..."Ucap Mira menghindar lalu naik keatas tempat tidur dan menyelimuti dirinya.
Shin hanya diam tertunduk menghadap tembok karena Mira menolaknya. Sesaat kemudian ia melihat Mira yang sudah tertidur. "Apa kata2ku begitu menyinggung perasaanmu Putri... apa kau terlalu terluka karena aku memarahimu didepan Man Bok.. apa kau sudah tidak lagi menginginkanku menjadi Oppamu... Maafkan aku, maaf Hwang Mi Ra..."ucap Shi pelan dan meninggalkan kamarnya menuju kamar Yoo Hye bersama Man Bok.

"Katakan Yoo Hye, apa yang terjadi pada Putri... jangan ditutupi.."Tanya Shin pada Yoo Hye yang duduk dihadapannya.
"Maafkan aku Pangeran... Putri melarang...."jawab Yoo Hye ragu.
"Lee Yoo Hye, bagaimanapun aku suaminya dan perlu tahu kondisinya.. apa kau mau menanggung semua bila terjadi sesuatu pada Putri.."Ucap Shin dingin dan menatap tajam pada Yoo Hye.
"Yoo Hye, beritahu saja... Pangeran juga perlu tahu... Putri Hwang pasti mau mengerti mengapa kau menceritakan ini.."ucap Man Bok.
"Putri Hwang......."Yoo Hye ragu. "Putri Hwang pernah jatuh dari kuda seminggu sesudah rombongan Mr. Dunt datang??" terang Yoo Hye takut. "Selama itu?? Yoo Hye bagaimana bisa kalian menyembunyikan ini dariku..."Shin marah.
"Apa hanya aku dan Man Bok yang tidak tahu, kalian mengetahui semua..."Tanya Shin.
"Maaf Pangeran, Putri jatuh hanya aku dan Ji Ae yang mengetahuinya, Ahjussi yang memelihara Black hanya tau kalau pengait pelana rusak... Pinggul Putri memar awalnya, menurut Putri terbentur terkena akar pohon besar dekat danau.. tapi aku baru mengetahui memar menjadi lebam malam sebelum ulang tahun pernikahan anda... Putri mengeluh nyeri dipinggangnya terlebih saat udara dingin, ia memintaku mencarikan krim oles... Maaf Pangeran, Putri selalu melarang kami untuk tidak memberitahukan semua ini pada anda..."terang Yoo Hye.

Shin tertunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia kemudian menatap Yoo Hye tidak percaya begitu rapi dan diam menyembunyikan semua ini darinya.
"Kang Man Bok, hubungi Dr. Kim... buatkan janji dengannya... Yoo Hye lain kali ada apapun tolong ceritakan padaku sesibuk apapun aku saat itu.... "ucap Shin lemah dan datar. "Kalian beristirahat.. bsok kita kembali..."Ucapnya lagi.

"Bagaimana bisa kau menyembunyikan sakitmu Putri... bagaimana bisa kau menyimpan semua apa yang kau rasakan... sekarang kau tidak sendiri, banyak orang disekelilingmu..."Shin bicara sendiri menatap Mira.
"Tidak tidur? masih ada yang ingin dikerjakan? Istirahatlah, tidurlah ditempat tidur ini.. aku tidak akan memakan banyak tempat untuk tidur, dan aku juga tidak akan mengganggu..."ucap Mira yang terbangun dan menyediakan tempat untuk Shin tidur, ia memberi guling sebagai penghalang, Shin hanya diam dan terus menatap Mira yang beberapa saat kemudian tertidur kembali.

NCNCNCNCNC.... hehehe, boong deng... belom waktunya sodara2... wakakakakak...

Incheon Airport,
Rombongan Shin kembali ke Korea, Shin, Mira, Man Bok dan Yoo Hye masuk kedalam satu mobil. Sepanjang perjalanan Mira hanya diam, hingga mereka tiba diklinik pribadi Dr. Kim.
"Siapa yang sakit? anda tidak enak badan Pangeran? Kenapa kita kemari?"ucap Mira bingung.
Yoo Hye dan Man Bok terdiam, Shin turun dari mobil kemudian membuka pintu dan membimbing Mira kedalam Klinik.
"Pangeran, anda tidak apa2? Apa terlalu letih? Mengapa semalam tidak bicara padaku kalau anda sakit..."Mira terus memberondong pertanyaan pada Shin yang menggenggam tangannya masuk kedalam ruangan Dr. Kim.
"Anda yang seharusnya bercerita padaku, mengapa begitu mengkhawatirkan orang lain? sampai sakitpun tidak ingin membaginya padaku... dengar Putri, bila amarahku kemarin begitu melukaimu aku minta maaf, aku tidak berniat memarahimu didepan orang lain.. tapi setidaknya kau ceritakan apa yang kau rasakan padaku...."Shin menatap Mira.
"Aku tidak sakit, mengapa membawaku kemari..."Mira mengalihkan pembicaraan.
"Putri Hwang, Pangeran Shin... kita langsung memeriksa Putri saja..."Ucap Dr. Kim yang baru tiba.
"Dr. Kim, aku tidak menderita apapun... Pangeran, aku tidak sakit.."Bantah Mira.
"Kita periksa dlu nanti baru kita pastikan anda sakit atau tidak Putri..."Dr. Kim menenangkan.Mira berjalan sambil terus menoleh ke arah Shin dan Yoo Hye.

Dr. Kim menerangkan hasil pemeriksaan Mira pada Shin, Mira terus tertunduk sambil meremas tangannya khawatir terjadi yang tidak diinginkan dan akan merepotkan semua orang, Shin yang melihat langsung memegang tangan Mira.
"Kita harus mengoperasi Putri tuk menghilangkan penyumbatan darah yang menyebabkan lebam di pinggul Putri.."Ucap Dr. Kim.
"Operasi??? Dr. Kim, ini tidak sakit percaya padaku..."ucap Mira terpotong
"Lakukan yang terbaik untuknya Dr. Kim..." Shin langsung menyetujui. "Pangeran...." Mira memandang Shin.
"Kami akan mengaturnya Pangeran..."jawab Dr. Kim.
"Pangeran... maafkan aku... tapi ini tidak mengganggu jadi tidak perlu operasi..."Rayu Mira saat keduanya meninggalkan Ruangan Dr. Kim.
"Dr. Kim bilang harus operasi jadi lakukanlah Putri.."jawab Shin dingin dan membawa Mira masuk kedalam mobil.
"Pangeran, aku tidak ingin merepotkan karena tidak mengataka semua ini... jadi tolong batalkan semua ini Pangeran... aku akan berhati2 dan menjaga diriku sendiri..." rayu Mira pada Shin sepajang perjalanan menuju istana.
"Karena Kau tidak mengatakannya yang membuat semua orang repot Putri Hwang... mulailah berbicara tentang apa yang kau rasakan pada orang lain, sekarang anda tidak sendiri seperti dulu... jalani operasi seperti yang diminta Dr. Kim..."Ucap Shin dingin dan keluar dari dalam mobil masuk kedalam istana Gwanshim.

Sebulan kemudian,
"Tidak bisakah anda melakukannya sekarang Dr. Kim... Pangerang sedang keluar kota dalam beberapa hari baru kembali.. tolong lakukan sekarang aku tidak ingin mengganggu tugasnya.." pinta Mira saat mendatangi Dr. Kim seorang diri.
"Putri Hwang, kami harus meminta persetujuan Pangeran..."
"Dr. Kim, ia menyetujuinya kemarin.. anda hanya tinggal melakukannya, tolong bantu aku... bantu ia juga agar tidak terlalu khawatir.."Mira memohon.
"Baiklah.. beristirahatlah Putri, dua jam kemudian kita melakukannya.. kami mempersiapkan terlebih dahulu.."Ucap Dr. Kim. "Terima Kasih Dr. Kim..."Jawab Mira.

Operasi Mira berjalan lancar, Mira dibawa ke ruang perawatan uintuk pemulihan pasca operasi. Satu jam kemudian Mira sadarkan diri namun beberapa saat kemudian ia tertidur karena obat yang diberikan Dr. Kim. Dua hari sudah Mira terbaring diklinik Dr. Kim, tanpa ada seorangpun dari kerajaan yang tahu.

Istana Gwanshim,
"Apa perlu memberitahu Pangeran eonni... Putri sudah dua hari tidak kembali..."ucap Mae Ri cemas.
"Aku akan menghubungi Man Bok Ahjussi..."Jawab Yoo Hye.

Esok Hari Klinik Dr. Kim,
"Anda belum boleh mengendarai mobil Putri Hwang..."Ucap Dr Kim yang terpaksa mengijinkan Mira pulang, karena ia bersikeras ingin kembali ke Istana.
"Aku akan mencari taksi Dr. Kim..."Jawab Mira.
"Tidak Perlu, kau pulang bersamaku... "Ucap seseorang yang masuk kedalam ruang perawatan Mira.
"Pangeran..."Mira terkejut dengan kedatangan Shin.
"Maafkan aku Pangeran, kami hanya.... "Dr. Kim mencoba menjelaskan.
"Tidak apa Dr. Kim... mohon lain kali jangan diulangi lagi... "Jawab Shin dingin.
"Ingin kugendong, atau dengan kursi roda..."Tanya Shin pada Mira.
"Aku berjalan sendiri...."Jawab Mira pelan karena ia melihat kemarahan dimata Shin.

Dalam mobil Shin memasangkan seatblet pada Mira dan langsung membawa cepat kendaraannya setelah berpamitan dengan Dr. Kim.
"Pangeran, aku yang meminta Dr. Kim untuk melakukannya... anda jangan marah padanya.."Ucap Mira membuka pembicaraan karena Shin diam sepanjang perjalanan.
"Kalau kau bisa melakukannya sendiri.. lakukan sesuka hatimu, aku tidak ada hak untuk melarangmu Putri Hwang.."jawab Shin ketus.
"Aku hanya tidak ingin...."ucap Mira terhenti.
"Sudah sampai beristirahatlah... "Jawab Shin menghentikan kendaraannya tanpa keluar sama sekali.
Mira menatap Shin yang enggan melihatnya, menyadari Shin yang marah perlahan Mira keluar dari mobil Shin dan berjalan pelan menuju istana Gwanshim, Shin langsung memacu mobilnya setelah Mira turun.

"Dia tidak pernah menganggap aku ada... ia selalu melakukannya sendiri... lakukan sesukamu Putri... ternyata kau tidak pernah melupakan perjanjian kita diawal... statusmu hanya sebagai pendamping... kau benar2 menginginkan itu.. mengapa aku harus marah akan sikapmu ini... mengapa aku harus kecewa kau tidak menganggapku ada disisimu.. mungkin memang belum saatnya aku membuka hati... Putri Hwang, mengapa aku harus merasakan ini..."Ucap Shin pada dirinya sendiri duduk dipinggir Sungai Han.

Dua Bulan berselang,
Shin masih tidak banyak bicara dengan Mira, ia sibuk dengan semua urusannya. Sesekali ia menemani Mira untuk kontrol dengan Dr. Kim, sesudah itu kembali keduanya berdiam diri. Hingga suatu hari...
"Pangeran, aku mohon sesuatu..."Ucap Mira dalam kamar diruang kerja Shin.
"Katakanlah aku akan sibuk hari ini... "jawab Shin tanpa melihat Mira yang sibuk menyusun berkas dihadapannya.
"Bisakah kau ijinkan aku untuk pergi ke...."
"Lakukan apa maumu Putri... kau boleh bertindak sesuka hatimu, aku tidak akan melarang dan ikut campur urusanmu.."Jawab Shin memotong pembicaraan Mira.
"Pangeran, maksudku aku ingin mengajakmu ke..."
"Putri, aku bilang aku tidak akan mengganggumu, jadi tolong jangan ganggu aku dengan semua ulahmu..."ucap Shin keraa membentak Mira.
"Maafkan aku..."Mira membalikkan badannya hendak keluar dari kamar Shin, Tapi wajahnya berubah sedih dan kaget saat ia tahu diruang kerja Shin sudah banyak para pejabat istana dan daerah juga Kang Man Bok yang mendengar pertengkaran mereka.
Mira kembali membalikkan badan kearah Shin melepaskan pegangannya pada sebelah pintu yang terbuka sedari tadi.
"Pangeran bila kau tidak menyukai semua tindakan dan ulahku yang selalu merepotkanmu, setidaknya kau tidak bicara terlalu keras membentakku... aku masih manusia yang punya hati dan perasaan...."ucap Mira pelan, Shin diam memandang Mira yang mengeluarkan airmata.Mira cepat menghapus airmatanya dan keluar meninggalkan kamar Shin sambil membuka lebar kedua pintu kamar agar Shin mengerti maksudnya.
Shin terdiam saat melihat para bawahannya yang sudah berkumpul diruang kerjanya dan membungkuk memberi hormat pada Mira yang cepat berlalu meninggalkan tempat itu.

Dapur Istana,
"Jung Min Ahjumma...."Panggil Mira pada seorang pelayan, semua pelayan yang ada segera memberi hormat pada Mira.
"Nde, Putri Hwang..."jawabnya.
"Aku ingin membuat kue beras, bisa kau siapkan bahannya... aku juga ingin membuat kimbab, bantu aku menyiapkannya, nanti aku buat sendiri..."pinta Mira segera memakai celemek.

Jung Min bingung, namun menuruti semua keinginan Mira. Pelayan lain ingin membantu namun ditolak Mira yang mulai menyiapkan dan membuat makanan yang disebutnya tadi. hari sudah malam saat Mira selesai membuat aneka variasi kue beras dan ia langsung menyiapkannya dalam sebuah tempat. Mira merapikan semua, ia segera membuat kimbab hingga tak terasa pagi menjelang. Mira sudah membersihkan dan merapikan semua perabotan yang dipakainya, Jung Min dan beberapa pelayan bingung karena dapur mereka rapi seperti sedia kala.

Ruang Kerja Shin,
"Putri semalaman ada didapur istana membuat aneka makanan, sepertinya Putri ingin berpergian Pangerang.."Ucap Man Bok melapor. "Semalaman??"Tanya Shin.
"Ya Pangeran, baru saja Putri kembali kekamarnya..."jawab Man Bok.
"Semua sudah disiapkan untuk perjalanan anda kali ini, lusa kita baru kembali lagi... apa anda ingin membawa Putri, Pangeran Shin.."Tanya Man Bok.
"Tidak, dia mungkin sudah ada acara sendiri.. rapikan semua aku berganti pakaian dulu.."Ucap Shin.

Mira keluar kamarnya ia sudah rapi berhias dengan mengenakan hanbok pemberian Shin, Mira menyiapkan semuanya dan merapikannya kedalam mobil. "Putri anda mau pergi??"Tanya Mae Ri.
"Ya, Mae Ri aku ada urusan.. maaf kamar begitu berantakan tolong rapikan, maaf merepotkanmu... katakan pada Yoo Hye tidak usah menungguku.."ucap Mira sambil merapikan bungkusan makanannya.
Mira kembali kekamar melupakan sesuatu, kemudian bergegas keluar kembali saat Shin dan Man Bok juga keluar dari ruang kerja Shin. Shin terkejut melihat dandanan Mira hari ini. "Hanbok itu....."bisik Shin dalam hati.
"Anda ingin pergi Putri Hwang..."sapa Man Bok saat Mira hendak masuk kedalam mobilnya diluar istana GwanShim.
"Nde Ahjussi, kalian juga ingin berangkat sekarang... berhati2lah,..."ucap Mira datar.
"Hmm, Man Bok Ahjussi... tolong jaga Pangeran Shin, jangan biarkan ia lelah dan terlalu banyak bekerja... aku titip pada anda, ahjussi..."ucap Mira pada Man Bok, Shin melihat tajam ke arah Mira ingin mengetahui maksud perkataannya.
"Pangeran, aku pergi... hari ini aku ingin mengenakan hanbok pemberian anda... maaf bila selalu merepotkanmu... mungkin ini terakhir kalinya... maafkan aku..."Pamit Mira lalu masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan istana.

Makam Orangtua Mira,
"Harusnya aku membawa suamiku kali ini... hampir dua tahun pernikahan kami namun belum sekalipun saat perayaan kematian kalian ia ikut bersamaku... Maafkan aku, dia begitu sibuk dan aku tidak ingin mengganggunya juga merepotkannya... eomma, appa, halabeoji, aku merindukan kalian... andai kalian tahu apa yang aku rasakan saat ini.... aku selalu membuat semua orang khawatir, membuat suamiku kesal, membuatnya marah, merepotkannya juga menyusahkannya... ia mungkin lelah dengan ulahku... maafkan aku, mungkin kejadian kemarin terakhir kalinya aku menyusahkannya, juga terakhir kalinya ia memarahiku... eomma, appa, halabeoji, aku tidak akan mengganggunya lagi, aku janji..."ucap Mira dimakam orang yang dikasihinya sambil menangis setelah melakukan penghormatan.

Mira menumpahkan kesedihannya dalam mobilnya, ia menangis mengingat semua amarah Shin saat membentaknya, ia menangis mengingat begitu menyusahkan Ibu Suri, Permaisuri, Yoo Hye, Mae Ri, Ji Ae, Man Bok, juga Shin. Mira melajukan mobilnya hingga tiba didepan rumahnya dulu.
"aku tidak akan menyusahkan kalian lagi... Pangeran, kau juga tidak perlu lagi membentakku.. aku tidak akan merepotkan juga menbuatmu pusing...."Ucap Mira menitikkan airmata kemudian masuk kedalam rumahnya.

"Ahjumma... Aku pulang.... Ahjumma, ini Hwang Mi Ra kembali... "teriak Mira memanggil pengasuhnya.


TBC

Selasa, 23 November 2010

(FF) MY LADY...... EMPAT BELAS

Cast :
Jang Geun Suk as Prince Shin Young
Hwang Mi Ra as Princess Hwang
Kang Man Bok as Prince Shin Assistant
Lee Yoo Hye as Princess Hwang Assistant
Shin Mae Ri as Maid
Jung Ji Ae as Maid
Choi Hyun Na as Reporter

Sebelumnya,
"DISINI.... APA KAU PUNYA KEKASIH SELAIN AKU... Oh Pangeran, kukira kau berbeda dengan pria bahkan Pangeran yang lain, ternyata sama saja.. tidak puas dengan satu isteri...."bisik Mira dengan suara menekan dan memasang wajah cemberut.
"William Dunt, ini Isteriku..."tamu tersebut menyapa dan berjabat tangan pada Shin.
"Shin Young, ini Istriku Hwang Mi Ra... semoga kalian senang berkunjung kemari..."balas Shin sambil merangkul Pinggang Mira.
"Putri Hwang, terimakasih untuk Hanbok juga kimchinya... senang bisa berkenalan dengan anda, anda benar2 orang yang menyenangkan.. Pangeran Shin, benar2 beruntung mendapatkanmu Putri..."Senyum Mrs. Dunt.
"Mengapa memberikan hanbok itu padanya..."tanya Shin.
"Aku tidak pernah memberikan apa yang kau juga istana berikan padaku kepada orang lain..." Mira tertunduk sedih sambil memegang Hanbok biru dengan banyak taburan motip sakura disana.
Tiba dikamar yang Penthaouse hotel, Mira diam saat melihat hanya ada satu tempat tidur disana, sementara Shin keluar balkon tuk menikmati pemandangan kota Bangkok.

#14,
Shin keluar kamar melihat Mira yang duduk melamun diluar kamar hotel, Shin mengambi selimut dan menghampiri Mira.
"istirahat didalam, kau pasti jetlag..."ucap Shin mengalungkan selimut pada Mira.
"gomawo.... "ucap Mira bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Shin.
"Putri Hwang...."Shin memegang tangan Mira menghentikan langkahnya.
"Tidurlah dikamar, biar aku disofa masih ada yang ingin aku kerjakan..."ucap Shin kembali.
Mira diam dan melangkah kedalam kamarnya, Shin mendapat perlakuan dingin Mira menyusulnya kedalam.
"Putri..."
"Panggil aku Mira, Pangeran.... aku merasa makin tidak pantas menyandang status Putri..."jawab Mira mengambil bantal dan selimut dikamar kemudian keluar menuju sofa.

"Ada apa denganmu.... kita hanya berdua kau biasanya memanggilku dengan Oppa... dengar Put.. baiklah, Mira... Yak! aku menyuruhmu tidur dikamar... Hwang Mi Ra... katakan apa yang mengganjal dihatimu..."Shin teriak saat Mira mulai merebahkan tubuhnya diatas sofa.

"Pangeran, kau yang bilang terserah aku melakukan apapun sesukaku... apa harus kau selalu membentak dan marah saat aku melakukan hal yang tidak kau suka, kalau begitu aku akan menunggu dan menuruti semua perintahmu saja,... Maaf, maafkan aku Pangeran... aku sedikit lupa akan statusku hanya karena kebaikan dan keramahanmu... jangan pernah baik padaku, jadilah Pangeran Shin Young seperti pertama kali yang kukenal dulu... baik, aku tidur dikamar sesuai permintaanmu..."jawab Mira pergi meninggalkan Shin.

"Putri Hwang... "Panggil Shin. "Hwang Mi Ra... Panggil aku Hwang Mi Ra.... Seorang Putri tidak akan pernah dibentak dan dimarahi juga dimaki didepan Umum... jadi panggil aku Mira... aku hanya piaraan saja yang akan menuruti kemauan majikanku..."jawab Mira yang airmatanya mulai mengalir.

"memarahinya depan umum????"Shin bingung ia mengingat2 apa yang telah dilakukannya pada Mira.
Shin akhirnya ingat saat ia memarahi Mira karena Hanbok dari mulai dalam istana Yeohoejang sampai didepan istana Gwanshim dimana disana ada pengawal dan Kang Man Bok. Shin bangkit menemui Mira didalam kamar, namun ia hanya melihat punggung Mira yang berguncang karena tangis ditempat tidur, akhirnya Shin batal menghampiri istrinya itu.

Shin keluar kamar lalu menuju Coffee Shop, Shin duduk sendiri menikmati secangkir kopi pikirannya melayang teringat ucapan Mira, ia tidak menyangka kalau marahnya saat itu menyinggung perasaan Mira. Shin mengulum senyum saat ingat kebersamaannya berdua dengan Mira, ledekan canda juga senyum Mira tergambar jelas, ia menyukai saat Mira mulai manja hingga meledeknya sampai ia tidak punya kata2 untuk membalas gadis itu. Senyum Mira, sudah beberapa bulan ini ia tidak melihat senyum Mira, wajah Shin tertunduk ia benar2 merindukan semua itu dan ia merindukan senyuman dari wajah Mira yang begitu menyejukkan.

"mengapa aku merindukan senyumnya... mengapa aku selalu menanti manja ledekannya... aku tidak merasa terganggu dengan itu... apa aku mulai menyukainya, menyukai dengan apa yg dia buat untukku... kini senyum itu hampir tidak lagi kulihat, ia banyak diam... Mira, apa aku mulai menyukaimu... apa arti dari kehilangan ini, kehilangan manja, tawa, canda juga senyumanmu... Shin Young, akankah kau membuka hatimu untuk gadis yang saat ini selalu disisimu.... Hwang Mi Ra.. bantu aku menjawab pertanyaan hatiku, apa kau juga merasakannya..."Shin berkutat dengan pikiran dah hatinya.

"Boleh kutemani...?"ucap seseorang membuyarkan lamunan Shin.
"Nona Choi... belum tidur... silahkan.."jawab Shin.
"Mengapa sendiri, Putri sudah tidur?"
"Hmm, mungkin jetlag... biar dia beristirahat besok dan lusa jadwalnya padat dan menguras tenaga...."jawab Shin.

Kamar Hotel,
Mira terbangun merasakan nyeri dipinggulnya, ia bangun membongkar tasnya mencari kotak obat namun tidak diketemukan. Mira keluar kamar tidak menemui Shin, ia berjalan menuju kamar Yoo Hye namun tidak berani membangunkannya. Mira kemudian turun sambil sesekali ia menggigit bibir bawahnya merasakan nyeri, ia merapatkan baju hangatnya berjalan menuju receptionist.

"Malam, Boleh aku minta alat pengompres.. tolong isi dengan batu es saja..."Pinta Mira.
"Sebentar kami carikan Putri... nanti kami antar kekamar anda..."Jawab seorang receptionist.
"oh, aku menunggu di Coffee Shop saja... atau nanti aku kemari lagi..."jawab Mira menuju Coffee Shop dan memesan Hot Chocolate.
Saat menikmati Hot Chocolate Mira melihat sosok yang dikenalnya,"Pangeran.... Nona Choi... akhirnya mereka bersama.."bisik Mira dalam hati, ia kemudian menikmati kembali minumannya walau sesekali terdengar suara tawa Shin dan Hyun Na.

Mira POV,
"Pangeran senang mendengar tawamu.... aku belum pernah mendengarnya, baru kali ini bisa mendengar tawa lepasmu setelah satu tahun lebih mengenalmu... Nona Choi, sangat pintar menghiburmu... andai dia ada diposisiku, kau pasti lebih sering tertawa dan tersenyum... tidak akan selalu jengkel dengan perkataan dan ulahku... Maaf aku belum pernah dekat dengan laki2, aku tidak pernah mengenal mencintai dan cintai, aku terlalu sibuk dengan dunia dan nasibku... aku tidak berani tuk mengenal kehidupan cinta, terlalu sakit dan sepi hidup sebatang kara Pangeran, aku tidak ingin merasakan lagi kehilangan harus ditinggal orang yang kucintai saat ia tahu aku tidak memiliki keluarga... Nikmatilah kebersamaan kalian, aku senang mendengar tawa dan melihat senyummu..."

"Anda mencintai Putri Hwang, Pangeran Shin..."Tanya Hyun Na.
"Mengapa?? kalau aku tidak mencintainya kau ingin menggantikannya..."jawab Shin.
"Aku selalu berharap seperti itu... Pangeran, anda tau isi hatiku, apa kita tidak bisa seperti dlu lagi, aku dapat mendekatimu aku bisa mencintaimu..."pinta Hyun Na memegang tangan Shin, disudut lain Mira melihatnya.
"Nona Choi... aku sudah menikah jangan berulah yang menimbulkan kabar tak enak nantinya.."jawab Shin menarik tangannya.

"Anda mencintai istri anda Pangeran... apa kau mencintainya Shin Young-ssi..."Hyun Na tetap menahan tangan Shin.
"Nona Choi.. kalau kau mengira perkenalanku dengan Putri Hwang terlalu cepat dan pernikahan kami yang terkesan terburu membuatmu berfikir aku tidak mencintainya itu benar... tapi kini Putri Hwang adalah istriku dan wanita yang ada disisiku setiap hari, aku harap kau bisa menerima bila suatu hari nanti aku akan berusaha mencintainya...."jawab Shin melepaskan tangan Hyun Na, namun pandangannya beralih pada sosok wanita yang dikenalnya, Mira... ia melihat Mira saat membayar dikasir dan keluar Coffee Shop.

"Nona Choi, sudah malam aku ingin beristirahat..."pamit Shin.
"Apa tidak tersisa ruang untukku Pangeran... apa Putri Hwang juga mencintaimu.."Hyun Na masih memohon pada Shin.
"Nona Choi, kita lihat saja nanti... dan kau juga silahkan melihat bagaimana sikap Putri padaku, apa dia mencintaiku atau tidak dan lihat bagaimana nantinya, apakah dari sikap Putri padaku akankah aku mencintainya... selamat malam Nona Choi.."Shin pergi melangkah meninggalkan Hyun Na.

"Sudah ada yang kuminta...?" tanya Mira pada receptionist. "Ini Putri, maaf menunggu.."Jawabnya dan Mira meninggalkan lobby hotel kembali ke kamarnya. Shin yang menyusul kehilangan Mira yang sudah masuk kedalam Lift.
"Ada apa Putri kemari apa ada masalah..?" tanya Shin pada Receptionist.
"Oh, Putri hanya meminta alat pengompres Pangeran.."
"Pengompres, apa dia demam lagi... terimakasih.."pamit Shin bergegas menuju kamarnya.

Mira mengompres lebam dipinggulnya, kantuk mulai menyerangnya sesaat kemudian ia tertidur setelah menyimpan alat pengompresnya. Shin masuk kedalam kamar mendapati Mira tertidur, ia mendekati dan memegang kening Mira.
"tidak demam... untuk apa dia ambil alat pengompres... dimana alat itu..."Shin bergumam sendiri, akhirnya ia menemukan alat pengompres itu dalam kamar mandi.

"Es.... aarghh, bagaimana aku tidak mengetahui apapun tentangnya..... Hwang Mi Ra mengapa aku harus peduli padamu, apa hanya sekedar membahagiakan orang tuaku... aaargh..."Shin membanting alat kompres ditangannya, dia membalikkan badannya menatap Mira yang tertidur pulas.

Pagi Hari,
Mira sudah rapi tetap dengan dandanan sederhana khas Hwang Mi Ra dengan make up yang tipis pula, Mira menyiapkan sarapan yang diantar Room Service, kemudian ia masuk kedalam kamar melihat Shin yang sedang mengancingkan kemejanya.


Mira mendekati membantu Shin, ia memilih dasi yang cocok dipadupadankan pada kemeja juga jas yang akan dikenakan Shin. Pilihan Mira pada dasi hitam bergalzur silver, ia langsung mengenakannya pada Shin, Shin hanya diam memandang wajah Mira, namun Mira tidak menyambut sama sekali tatapan Shin, ia hanya terus berkonsentrasi menyimpulkan dasi. Tubuh Mira merapat dan menempel pada Shin, ia memiringkan wajahnya membenarkan lipatan kerah kemeja Shin, dirinya begitu rapat hingga Shin merasakan hembusan hangat nafas Mira dilehernya, Shin tetap terdiam. Mira mengambil jas dan mengenakannya pada Shin, tangannya benar2 terampil membantu Shin berpakaian, tugasnya terhenti saat bel kamarnya berbunyi.

"Putri Hwang... "Shin menahan tangan Mira yang hendak pergi membuka pintu. "Nde...."jawab Mira.
"semalam itu....."ucap Shin mencoba menerangkan kejadian semalam khawatir Mira melihatnya berdua dengan Hyun Na, dan juga menanyakan masalah alat pengompres yang dipinjam Mira.
Mira hanya melepaskan tangan Shin, lalu membuka pintu, Kang Man Bok juga Yoo Hye datang membantu semua, namun Yoo Hye terkejut karena Mira telah rapi bahkan sesudah membuka pintu ia juga menyiapkan sepatu dan kaos kaki untuk Shin. Yoo Hye dan Man Bok saling berpandangan, Shinpun juga diam dalam pelayanan Mira saat Mira membawakan teh untuknya.

Didalam mobil Mira hanya diam hanya Shin yang terus berbicara dengan Man Bok tentang schedule hari ini.
"Putri, hari ini akan panas dan menguras tenaga karena kita akan mengunjungi lahan pertanian..."ucap Man Bok, Mira hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
"Bila lelah katakan saja, nanti biar aku sendiri yang ikut kelapangan..."Ucap Shin yang khawatir tentang kondisi Mira karena alat kompres semalam.
"Aku siap dan tidak akan menyusahkan kalian... "jawab Mira yang terdiam kembali, Shin melihat wajah Mira yang benar2 berubah.

Perkenalan ramah tamah semua berjalan lancar, Mira terus berada disisi Shin menemaninya kemanapun melangkah, hingga sampai di area persawahan, seorang interprenter mendampingi mereka sepanjang hari ini. Hyun Na terus meliput semua kegiatan Putri dan Pangeran itu, sambil matanya terus melihat semua gerak gerik pasangan itu. Shin mendengarkan berbagai penjelasan tentang pertanian dan iapun berbagi perbedaan cara bercocok tanam didaerah tropis dan daerah dengan iklim 4 musim.

"penanaman disini memakai cara apa 2 : 1 atau 5 :1?" Tanya Mira pada seorang petani. "5 : 1..."jawabnya.
"Baiknya diubah dengan 2 : 1 agar pengairan pemupukan juga intensitas cahaya matahari dan terbagi sempurna.."terang Mira, Shin memperhatikan Mira yang berdialog langsung dengan para Petani, ternyata banyak yang tidak ketahuinya tentang istrinya ini sampai banyak halpun diketahui Mira.
"kami bermaslah dengan gulma..."keluh petani itu. Mira jongkok berbincang dengan petani tersebut, tangan Shin menggegam tangan Mira sebagai tumpuan istrinya menjaga keseimbangan.

"kalian bisa atasi saat proses sebelum tanam, pengolahan tanah dan pemupukan diawal sebelum masa tanam yang baik bisa membantu proses terbentuknya bakteri dan berbagai unsur yang menjadi makanan tuk padi, selama itu benar dan unsur hara terbentuk dengan baik, akar padi lebih banyak menghisap dan mengambil makanan yang dibutuhkannya hingga gulma dan tanaman pengganggu lain tidak dapat berkembang biak karena makanan dan nutrisi dalam tanah sudah cepat diambil oleh padi... aku tidak tahu banyak mungkin nanti ada ahli yang dapat membantu kalian secara teknis..."terang Mira, semua yang ada hanya diam dan tidak menyangka sang Putri mengetahui hal itu.

"Maaf, aku bukan menggurui.. aku hanya tahu dari apa yang kubaca bila salah aku minta maaf..."ucap Mira pada seorang pejabat pemerintahan.
"Putri tahu banyak hal Pangeran.. beruntungnya anda..."puji seorang pejabat disana.
Shin membantu Mira berdiri, yang saat berbincang tadi berjongkok. Shin terus menuntun Mira berjalan di area, Hyun Na terus memperhatikan keduanya.
"aargh...."Mira menjerit menahan sakit dan menggegam tangan Shin kuat.
"Putri, tidak apa2..."Tanya Shin panik, Mira menggeleng cepat matanya menatap Yoo Hye.
"mungkin terkilir Pangeran, biar aku bantu..."Yoo Hye menjawab. "Urat kakiku mungkin tertarik sudah tidak apa2.."Ucap Mira beralasan.

Yoo Hye membawa Mira kedalam mobil dan mengoleskan krim ke pinggul Mira lalu merapikan pakaiannya dengan cepat.
"makin lebam Putri..."Yoo Hye cemas. "Jangan beritahu Pangeran, ingat itu eonni.. tinggalkan Krim oles itu nanti dikamarku.."Pinta Mira.

Tiba dihotel Mira istirahat dengan cepat, Shin ingin bertanya keadaannya mengurungkan niatnya karena Mira telah terlelap.

Pagi Hari,
Mira dan Shin berkunjung ketempat anak2 cacat, Mira langsung menggabungkan diri dengan para anak2 itu, walau ia tidak mengerti bahasanya namun mereka bisa akrab dan saling memahami walau seorang interprenter mendampinginya namun wajah Mira begitu menikmati waktunya bersama anak2 itu. Shin hanya tersenyum melihat kemanjaan anak2 itu pada Mira.

"Siapa Namamu.."Tanya Mira pada seorang anak diatas kursi rodanya. "ALEX..."jawabnya tersenyum. "Alex..???"Tanya Mira kembali, semua pengasuh tersenyum menjelaskan mengapa anak itu menyukai nama Alex.
"Hmm, senang berkuda??"Tanya Mira kembali, Alex cepat mengangguk. "Mengapa Alex kudamu itu mati?" Tanya Mira.
"Ia tidak bisa berjalan sama sepertiku..."Jawab Alex santai.
Mira diam dan melihat wajah Alex yang sepertinya menikmati segala kekurangan atas dirinya yang hanya sepanjang waktu diatas kursi roda. "Kau ingin berkuda??" Tanya Mira. "Hmm, apa Anda bisa menolongku.. aku ingin terbang diatas punggung Kuda.."jawabnya ceria.

Mira berdiri dan membisikkan sesuatu pada pengurus lalu tersenyum pada Alex, tak lama seseorang membawakan seekor kuda dan Mira mendekatinya.
"Hallo namaku Hwang Mi Ra... mau bermain denganku?"Bisik Mira sambil mengusap punggung kuda itu dan melirik pada Alex yang matanya berbinar. Rombongan Shin datang menghampiri Mira.
"Hmmm, bantu aku mambawa Alex terbang dipunggungmu.. kita pasti bisa berteman dengan baik, suamiku juga memiliki kuda jantan yang bagus sama sepertimu..."Mira terus bicara sambil tersenyum melirik Alex yang makin bersemangat kala interprenter menerjamahkan kata2 Mira.
Shin dan yang lain tersenyum melihat keramahan Mira pada kuda itu dan cara Mira menyenangkan Hati Alex. Mira menuntun Kuda itu kearah Alex, "Dia juga ingin berkenalan denganmu Alex.."bisik Mira membungkuk pada Alex yang sempat ragu mengusap kepala kuda itu.

"Tolong Siapkan...."pinta Mira, ia melirik pada Shin yang menganggukan kemauan istrnya.
"Putri Hwang...lebam dipinggang anda.."bisik Yoo Hye.
"Tenang Eonni, aku tidak apa2.. aku akan hati2..."jawab Mira.
Shin mendekati Mira dan membantu Mira mengikat rambutnya yang tergerai. "Terima Kasih Pangeran..." Ucap Mira.
"Siap bermain denganku... kita terbang sekarang..."Ucap Mira mendekati Alex, dan siap membawanya kepelana Kuda.
"Ia tidak memiliki kaki Putri Hwang...."bisik seorang biksu yang bersama Shin.

Mira terkejut, tubuhnya yang membungkuk berdiri tegak kembali dan diraih oleh Shin. Mira hanya memandang Shin, wajah Shin hanya tersenyum menenangkan Mira sambil menyembunyikan keterkejutannya. Mira melepaskan pengangan Shin dan dibantu Shin naik keatas punggung kuda, Shin kemudian mendekati Alex, "Tolong jaga istriku... janji.."ucap Shin tersenyum yang dianggukkan Alex kemudian mengendongnya menyerahkan pada Mira.

"Kain itu..."Pinta Mira pada Shin yang langsung membantunya mengingkat Alex ditubuh Mira, Yoo Hye cemas melihat Mira. "Pangeran, aku janji membawa istrimu yang cantik ini kembali..."ucap Alex pada Shin yang bingung tak mengerti lalu ditranslate oleh semua orang. "Putri, hati2..."ucapnya menyentuh paha Mira. "Nde..."Mira tersenyum pada Shin.

Mira menghentakkan kakinya pada badan kuda itu dan segera membaawa Alex berlari. "takut...?"Tanya Mira, Alex menggeleng. "Kita terbang sekarang....."Mira menghentakkan dan lari lebih kencang, Alex membuka tangannya seolah benar2 terbang.
Hyun Na terus menatap Shin yang tidak melepaskan pandangannya pada Mira.
"Kau mulai mencintainya Pangeran.... mungkin kau tidak sadari itu, tapi kau mulai menyukai keberadaanya disisimu... benar tidak ada tempat untukku dihatimu Pangeran... Beruntungnya Hwang Mi Ra..."bisik Hyun Na dalam hati dengan mata berkaca2.

Shin POV,
"Akhirnya senyum itu kembali... Putri betapa damai melihat senyummu... entah apa yang kau rasa, keramahanmu membawa kebahagiaan untuk semua orang... mengapa aku mulai bergantung dengan semua tingkahmu... mengapa aku mulai menyukai semua yang ada padamu... mungkinkah aku mulai mencintaimu.. Hwang Mi Ra, bantu aku meyakinkan hatiku... luka yang lalu masih belum kering sempurna...."

 TBC,
sedikit masukin ilmu pertanian,
tu juga seingetnya bis dlu tau karena nyolong denger
waktu ikut nemenin Mpi dari desa ke desa n dusun ke dusun
nerangin petani waktu sosialisasi pupuk ma dinas pertanian...
mian klo ga nangkep maksutnya yack....